indahnya keadilan dalam islam….

Suatu ketika, Amirul Mukminin, Ali bin Abi Talib KW, menemukan baju perangnya di tangan seseorang lelaki Nasrani. Ali mengadukan lelaki itu kepada Syuraih, yang ketika itu menjabat sebagai hakim. Ia mendatangi Syuraih lalu berkata, “hai Syuraih, kalaulah lawanku itu seorang muslim niscaya aku akan duduk bersamanya. Akan tetapi ia adalah seorang Nasrani, Rasulullah SAW telah bersabda, “jika kalian berpapasan dengan mereka di tengah jalan, maka desaklah mereka ke pinggir jalan dan rendahkanlah mereka seperti Allah telah merendahkan mereka tanpa bersikap melampaui batas.” Kemudian Ali berkata, “baju perang ini adalah milikku, aku tidak pernah menjual dan tidak pernah pula menghadiahkannya.”

Syuraih berkata kepada lelaki Nasrani tadi, “bagaimana tanggapanmu terhadap tuduhan Amirul Mukminin tadi?”

Lelaki Nasrani itu berkata, “baju perang ini adalah milikku. Dan dalam pandanganku, Amirul Mukminin bukanlah seorang pendusta.”

Syuraih menoleh kepada Ali dan berkata, “wahai Amirul Mukminin, adakah bukti-bukti atas tuduhanmu?”

Ali tertawa sembari berkata, “Syuraih benar, aku tidak punya bukti.”

Syuraih memutuskan baju perang itu adalah milik lelaki Nasrani. Lalu lelaki Nasrani itu mengambilnya, ia berjalan beberapa langkah, kemudian kembali dan berkata, “Aku bersaksi bahwa ini adalah hukum para Nabi, Amirul Mukminin mengajukan diriku ke majelis hakim, dan majelis hakim memutuskan hukum atas diriku. Aku bersaksi bahwa tiada Illah yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Demi Allah, baju perang ini adalah milikmu wahai Amirul Mukminin, aku mengikuti pasukan ketika engkau berangkat ke peperangan Shiffin dengan mengendarai untamu yang berwarna abu-abu”

Ali berkata, “karena engkau sudah masuk Islam, maka ambillah baju perang itu.” Maka lelaki itupun membawanya dengan kudanya. [Bidayah wa Nihayah, Ibnu Katsir]

Hadis riwayat Aisyah RA.: Bahwa orang-orang Quraisy sedang digelisahkan oleh perkara seorang wanita Makhzum yang mencuri. Mereka berkata: Siapakah yang berani membicarakan masalah ini kepada Rasulullah saw.? Mereka menjawab: Siapa lagi yang berani selain Usamah, pemuda kesayangan Rasulullah saw. Maka berbicaralah Usamah kepada Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Apakah kamu meminta syafaat dalam hudud Allah? Kemudian beliau berdiri dan berpidato: Wahai manusia! Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kamu ialah, manakala seorang yang terhormat di antara mereka mencuri, maka mereka membiarkannya. Namun bila seorang yang lemah di antara mereka mencuri, maka mereka akan melaksanakan hukum hudud atas dirinya. Demi Allah, sekiranya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya. (HR Bukhari Muslim)

Islam adalah agama yang tidak pernah memandang kedudukan sosial seseorang. Kedudukan seseorang di dalam Islam tidaklah ditentukan oleh darah bangsawan yang dimilikinya, tidak diukur berdasarkan tinggi rendahnya jabatan/kekuasaan yang dipegangnya, tidak dinilai berdasarkan banyak-sedikitnya harta kekayaan yang ia miliki.

Tiap orang memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum Islam. Anak Nabi, Amirul Mukminin, bangsawan, pejabat, pedagang, petani, bahkan orang-orang non-muslim seperti Yahudi dan Nasrani, semuanya akan diperlakukan dengan adil, dan bisa mendapatkan jaminan keadilan di dalan naungan pemerintahan Islam.

Bagaimana mungkin orang-orang yang beriman tidak mau berbuat adil, padahal Allah SWT telah memerintahkan demikian,

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Maaidah:

Menempatkan/memberikan sesuatu sesuai dengan proporsinya, tidak berat sebelah dalam memberikan keputusan, bersikap obyektif dan bijak, adalah keluhuran sikap yang pasti memukau setiap anak manusia.

Inilah salah satu sisi kemilau cahaya keindahan Islam, menjunjung tinggi keadilan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Keadilan Terhadap Kaum Yang lain

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa
menjadi orang-orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi
menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu
terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan
keadilan, hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana
sikap adil itu lebih hampir kepada takwa, dan bertakwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah maha mengetahui dengan mendalam akan
apa yang kamu lakukan”
(Al-Maidah:8).

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KEMANUSIAAN DALAM ISLAM

KEMANUSIAAN DALAM ISLAM

Pengantar
Kebudayaan adalah sebuah pengertian yang luas, begitu pula apabila dilihat dari perspektif Islam. Ia mengimplikasikan dalam dirinya setidak-tidaknya lima aspek yang saling terkait, di mana aspek pertama dan kedua berkaitan dengan dimensi rohani dan intelektual dari suatu kebudayaan. Yang pertama disebut sebagai asas batin atau metafisik, karena mengatasi bentuk atau bangunan fisik atau materialnya. Ia terjelma dalam yang apa yang biasa disebut sebagai gambaran dunia (worldview) dan pandangan hidup (way of life). Dalam hampir semua kebudayaan, asas metafisik itu dibentuk oleh pengaruh agama dan aliran-aliran keagamaan yang berkembang dalam masyarakat. Ia juga dapat dikatakan sebagai landasan ideal yang membentuk sikap mental, kejiwaan, semangat hidup, cita-cita dan cita rasa terhadap sesuatu yang dianggapnya baik, patut, bagus, indah, elok, dan lain sebagainya. Di antara cita rasa mengenai kebaikan itu tampak dalam konsep-konsep berkenaan dengan kebajikan, keadilan, keutamaan ikhtiar, dan lain-lain.
Aspek kedua dapat disebut sebagai aspek epistemologis dan metodologis. Setiap kebudayaan mengajarkan bahwa ada berbagai metode dalam mencari kebenaran dan melahirkan berbagai ragam jenis ilmu pengetahuan. Dalam Islam ilmu pengetahuan tidak hanya dibangun berdasar metode empiris (inderawi) dan rasional (aqli), tetapi berdasarkan hikmah yaitu petunjuk Tuhan yang tertera dalam kitab suci, melalui perenungan intuitif (`irfani) dan berlandaskan pengalaman sejarah, yang sangat dianjurkan dalam al-Qur’an. Berdasar asas metafisik dan epistemologis ini lahirlah pandangan-pandangan seperti kemanusiaan/humanisme, kemasyarakatan, dan lain sebagainya.
Aspek ketiga berkaitan dengan sistem nilai yang membangun adab atau norma-norma sosial, dasar-dasar moral atau etika, termasuk ethos kerja, motif ekonomi, wawasan estetik dalam menciptakan karya seni dan sastra. Aspek ini disebut aspek aksiologis. Setiap kebudayaan selalu mengandaikan adanya nilai-nilai ideal menyangkut baik dan buruk, elok dan jelek, pantas dan tak pantas, betul dan salah. Aspek keempat berkaitan hal-hal yang bersifat material dan teknis, yaitu barang-barang yang digunakan, alat-alat dan ketrampilan tehnik yang digunakan oleh suatu masyarakat dalam mengembangkan peradabannya seperti mencetak buku, melahirkan karya seni ruipa atau kerajinan, membangun rumah peribadatan, membuat tekstil, kapal, dan sarana transportasi yang lain.
Aspek kelima, berkaitan dengan sejarah. Semua kebudayaan lahir sebagai akibat factor-faktor sejarah yang kompleks termasuk kehadiran madzab atau aliran keagamaan yang bermacam, perkembangan ekonomi dan politik, interaksinya dengan kebudayaan-kebudayaan dari luar dan yang telah ada dalam masyarakat bersangkutan.
Karena masalahnya sangat luas, saya hanya membatasi pada satu aspek saja dari kebudayaan Islam, yaitu pandangan Islam tentang manusia dan kemanusiaan atau humanisme Islam. Topik ini menurut hemat saya penting, apalagi dalam kaitannya dengan persoalan kebudayaan, sebab manusialah pelaku utama dari sejarah dan manusialah yang membentuk kebudayaan.

Akar Humanisme Islam
Di dalam Piagam Jakarta (22 Juni 1945) dinyatakan sebagai sebagai berikut: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorong oleh keinginan yang luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.”
Nyatalah bahwa kemanusiaan atau humanisme yang dimaksudkan dalam Piagam Jakarta/Pancasila itu adalah suatu bentuk dari humanisme religius yang dijiwai oleh ajaran agama yang dianut penduduk Indonesia. Humanisme ini bukan hanya mengacu pada nasionalisme dan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, tetapi juga suatu bentuk humanisme yang mengandung peri-keadilan di dalamnya terhadap segenap rakyat Indonesia (lihat sila kelima Pancasila). Keadilan tidak mungkin wujud tanpa pengakuan terhadap martabat manusia dan persamaan derajat manusia di depan hukum universal.
Piagam Jakarta mengindikasikan bahwa martabat manusia adalah sangat mendasar dan esensial dalam membangun masyarakat madani yang menghargai hak asasi manusia. Segala hak politik, ekonomi dan sosial serta seluruh nilai-nilai demokrasi pada hakekatnya adalah untuk melindungi martabat manusia dan mengembangkan kepribadian manusia. Seorang budak yang dirampas hak asasinya, seorang kulit berwarna yang hidup di bawah kebiadaban masyarakat apartheid, sekelompok masyarakat pribumi yang hidup dibawah penindasan pemerintahan kolonial baik hak-hak politik, ekonomi dan kulturalnya seperti dialami bangsa Indonesia pada masa penjajahan dahulu, seorang wanita yang menderita karena tidak mendapat perlakuan setara dengan kaum pria, atau seorang anak/sekelompok generasi muda yang dibesarkan dalam kondisi tidak sehat, miskin dan tidak menguntungkan bagi pengembangkan potensi dirinya, semua ini tidak akan bisa memperoleh martabatnya sebagaui manusia dan tidak akan pula pribadinya berkembang,
Untuk itu harus disusun suatu sistem nilai yang mengakui keunggulan manusia sebagai hakikat kemanusiaannya, dan martabatnya sebagai dasar sistem tersebut. Inilah yang dikandung Piagam Jakarta/Mukadimah UUD 45 beserta Pancasila yang ada di dalamnya. Ternyata apa yang disusun oleh para pendiri NKRI itu sesuai dengan Piagam PBB 1948 tentang Hak-hak Asasi Manusia. Dalam mukadimahnya Piagam PBB menegaskan:
“Kami rakyat Persatuan Bangsa-bangsa memutuskan untuk menegaskan kembali keyakinan kami terhadap hak-hak asasi manusia, terhadap martabat dan kelayakan pribadi-pribadi manusia, terjadap hak-hak persamaan antara kaum wanita dan pria dan antara bangsa-bangsa, besar atau kecil” Selanjutnya dinyatakan, “Mengingat pengakuan terhadap martabat yang padu dan hak-hak persamaan yang tidak dapat diganggu gugat dari seluruh anggota keluarga umat manusia adalah dasar kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia…” Kalimat yang sama diulang da;am mukadimah Perjanjian Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya 1966 dan Perjanjian Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik 1966.
Pada peringatan Tahun Hak-hak Asasi Internasional 1968 di Teheran, peserta konferensi memaklumkan deklarasi: “Adalah wajib bagi masyarakat internasional untuk menunaikan kewajiban yang sungguh-sungguh menjunjung tinggi hak asasi manusia serta kebebasan dasar bagi semua orang, tanpa membeda-bedakan golongan, ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau lainnya…Pelanggaran besar-besaran terhadap hak asasi manusia timbul dari diskriminasi ras, agama dan kepercayaan, atau pernyataan pendapat yang melukai hati umat manusia serta membahayakan dasar-dasar kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia”.
Piagam Teheran juga menyebutkan bahwa aparheid, rasialisme dan kolonialisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Hak asasi manusia dapat direalisasikan melalu pembangunan kebijakan-kebijakan besar sehingga hak asasi ekonomi, sosial dan budaya dapat dinikmati semua orang, bahwa buta huruf adalah pengingkaran terhadap hak asasi manusia, dan komersialisasi pendidikan oleh negara merupakan penyebab dari kebodohan yang bertentangan dengan kemanusiaan.
Marilah kita bandingkan dengan Hadis yang berbunyi: “Wahai Tuhan, Pemelihara hidupku beserta seluruh semesta alam: Aku menegaskan bahwa sekalian manusia adalah saling bersaudara” (Sunan Abi Daud I, 1369:211). Dalam Pidato perpisahan di Padang Arafah, Nabi Muhammad s.a. w. juga menyatakan sebagai berikut:

Seluruh manusia bagi Islam sama..
Orang Arab tidak lebih mulia dari yang lain
Orang Persia tidak lebih mulia dari orang Arab
Si Kulit Putih pun tak lebih mulia dari si Kulit Hitam
Tidak pula sebaliknya
Kecuali atas derajat taqwa jua,
Serta kebajikan terhadap sesamanya

Jangan beri daku darah nenekmoyangmu
Yang kuinginkan ialah kebajikan”

(Ahmad Imam dalam Musnad)

Pengakuan terhadap Keesaan Tuhan secara tersirat merangkumi pengakuan terhadap adanya saling keterkaitan antara persaudaraan dan persamaan umat manusia.
Sebuah syair sufi Melayu karangan Hamzah Fansuri pada abad ke-16 M menyatakan:

Hamzah Fansuri orang `uryani
Seperti Ismail jadi qurbani
Bukannya `Ajami lagi Arabi
Senantiasa washil dengan Yang Baqi

Suatu kali Ali bin Abi Thalib r.a. bertanya kepada Rasululllah tentang asas-asas yang mendasari perilaku utama dan kebajikan-kebajikan beliau, dan Rasulullah menjawab: “Ilmu pengetahuan adalah modalku, akal pikiran adalah dasar dasar agamaku, ingat kepada Allah adalah sahabatku, cemas adalah kawanku, sabar adalah bajuku, pengetahuan adalah tanganku, kepuasan adalah harta perolehanku, menolak kesenangan (yang berlebihan) adalah profesiku, keyakinan adalah makananku, kebenaran adalah saranak, taat adalah perbekalanku, jihad adalah kebiasaanku dan kesenangan hatiku ialah dalam mengerjakan ibadah.”
Dengan bertitik-tolak dari pernyataan-pernyataan yang telah dikutip tersebut, kita ingin membicarakan gagasan humanisme dalam Islam. Pertama, berkenaan dengan kedudukan dan martabat manusia di alam dunia selaku khalifah Tuhan dan hamba-Nya.; Kedua, manusia dalam pandangan para filosof Muslim sebagai al-haywan al-nathiq dan implikasi-implikasinya bagi kehidupan intelektual dan moral; Ketiga, hubungan gagasan humanisme dengan etika dan adab.

Kedudukan Manusia
Untuk mengetahui dasar-dasar humanisme dalam Islam, kita harus berpaling kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Kitab suci al-Qur’an menegaskan, “Sungguh, telah Kujadikan manusia dalam keadaan/susunan sebaik-baiknya (ahsan taqwim) (Q 94:4). Demikian, dalam pandangan Islam, manusia itu merupakan makhluq yang mulia dan paling tinggi derajatnya di antara sekalian ciptaan Tuhan. Bahkan kitab suci umat Islam itu menegaskan bahwa derajat manusia itu lebih tinggi dari malaikat, dan manusia diciptakan dengan maksud agar malaikat bersujd kepadanya dan segala yang ada di bumi berbakti kepadanya”. Al-Qur’an juga juga menyatakan bahwa manusia dicipta sebagai khalifah (wakil) Tuhan di atas bumi dan memberinya amanat atau tanggungjawab untuk memelihara bumi.
Bumi merupakan tempat terbaik bagi manusia untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi makhluq yang paling mulia. Bumi bukanlah penjara atau tempat manusia dihukum disebabkan dosa-dosa asal yang dibuatnya selama menjadi penghuni Taman Eden. Tetapi Tuhan dapat pula menjerumuskan manusia ke dalam keadaan afsal safilin, keadaan yang serendah-rendahnya apabila melakukan kesalahan dan mendatangkan kerusakan di bumi yang merugikan umat manusia dan kemanusiaan. Agar manusia selamat, ia tetap berpegang pada petunjuk Tuhan (wahyu) dan memiliki pengetahjuan tentang dunia dan seluk beluk kehidupan tentang dirinya dan sesamanya.
Prinsip dasar ajaran Islam ialah keimanan atas tauhid, bahwa tidak ada yang patut disembah selain Alah. Prinsip ini tidak hanya menciptakan doktrin monotheistic Islam yang khas dan utuh, tetapi juga menjamin bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih tinggi derajatnya dari manusia. Kedudukan istimewa yang diberikan Tuhan kepada manusia ini diterangkan dalam al-Qur’an, yakni bahwa hukum kehidupan ini telah ditetapkan oleh Tuhan kepadanya. Hukum itu ialah bahwa sementara Tuhan menanamkan bakat bawaan yang murni (fitrah) kepada manusia untuk dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, Tuhan juga memberi kebebasan bagi manusia sebagai pribadi untuk mengembangkan dan menguji fikirannya antara kedua hal itu (salah dan benar, buruk dan baik, jelek dan indah) hingga mencapai kesimpulan akhir.
Perbuatan dan ikhtiar manusia merupakan tanggungjawab pribadi manusia itu sendiri. Firman Allah dalam al-Qur’an: “Jika mereka mendustakan kamu (ya Muhammad), katakanlah: Aku bertanggungjawab atas apa yang aku kerjakan, dan kalian pun beranggungjawab atas apa yang kalian kerjakan, sehingga kalian tidak perlu mempertanggungjawabkan perbuatan aku dan aku pun tidak perlu mempertanggungjawabkan perbuatan kalian.”( Q 10:41)
Dalam ayat lain dikemukakan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum, sampai mereka sendiri mau merubah dirinya” (Q 13:11). Jadi al-Qur’an dan Nabi Muhammad s.a.w. menegaskan pentingnya ikhtiar dan kemauan bebas (freewill), kebebasan berbuat serta kemandirian bagi manusia. Dalam Islam setiap individu bisa berhubungan spiritual dengan Tuhan tanpa perantara. Kedudukan manusia begitu tingginya dalam Islam.
Hendaklah dicatat di sini bahwa ayat yang telah dikutip, khususnya berkenaan dengan kata-kata ‘diri’ dihubungkan dengan ‘keadaan’ atau ‘dunia’ di dalam diri manusia, jadi bersifat spiritual atau diri spiritual manusia. Nurcholis Madjid menerjemahkan dunia dalam diri manusia itu sebagai ‘pemikirannya’ (tentang segala sesuatu), sedangkan Kuntowijoyo memperluasnya dengan pemahaman lain. Mengubah diri adalah juga mengubah pandangan dunia (weltanschauung) , orientasinya pada nilai-nilai dan cara-cara memahami ajaran agama serta cara-cara mengaktualisasikannya dalam kehidupan pribadi dan sosial. Iqbal, sebelumnya, mengatakan bahwa yang dirubah mestinya bukan sekadar pemikiran, sistem nilai dan pandangan dunia, tetapi juga cita-cita, kehendak dan pemahaman terhadap diri kulturalnya. Jadi yang dirubah bukan hanya alam pemikirannya, tetapi juga kondisi-kondisi sosial politik, ekonomi dan budayanya.
Perubahan itu tertuju pada kemajuan dan dalam Islam yang disebut kemajuan ialah “Kembali kepada asas-asas ajaran Islam yang sejati dan benar”, sebab kemajuan ke arah yang bersifat material semata-mata bukanlah tujuan bagi Islam melainkan semata-mata sebagai ‘kendaraan’ atau ‘sarana’ untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi lagi.
Kini kita kembali pada persoalan kedudukan dan martabat manusia. Para filosof Muslim seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Tufayl, al-Ghazali dan lain-lain, dalam rangka menyelaraskan falsafah Yunani yang mereka pelajari dengan ajaran Islam, telah berusaha merubah pemahaman para filosof Yunani mengenai manusia dengan memberinya dimensi-dimensi spiritual yang lebih luas dan mendasar. Ini tampak dalam perkataan al-hayawan al-nathiqا sebuah kata-kata Arab yang diterjemahkan dari perkataan Yunani animal rational. Di sini manusie diberi definisi formal sebagai ‘animal rational’ atau ‘binatang yang berpikir”.
Definisi ini sekurang-kurangnya mengandung gagasan tentang arti ‘rasional’ sebagaimana dipahami secara umum, yaitu ‘nalar. Dalam sejarah intelektual di Barat konsep tentanng ‘rasio’ telah mengalami perubahan sedemikian rupa dalam perkembangannya, bahkan menjadi penuh dengan kontroversi dan problematic. Seacara bertahap ia dipisahkan dari ‘intelek’ (intelectus), kemampuan tertinggi manusia untuk membedakan yang salah dan benar, serta untuk mengenal kebenaran tertinggi. Para filosof Muslim tidak memahami rasio sebagai terpisah dari apa yang disebut intellectus atau al-`aql. Bagi mereka `aql merupakan kesatuan organic dari rasio dan intelectus (al-Attas 1980:37). Dengan cara demikianlah filosof Muslim mendefinisikan manusia sebagai al-hayawan al-nathiq. Di sini kata al-nathiq menunjuk pada fakulti batin manusia berkenaan dengan nalar atau kemampuan berfikir secara rasional dan intelektual, yaitu ‘merumuskan makna-makna’ (dzu-nuthuq).
Akar kata nathiq dan nuthuq mempunyai makna dasar ‘pembicaraan’, yaitu ‘pembicaraan manusia’. Setelah dibentuk menjadi kata-kata nathiq dan nuthq maka ia berarti sebagai kekuatan, atau kesanggupan dan kemampuan tertentu dalam diri manusia untuk ‘menyampaikan kata-kata dalam sebuah pola yang bermakna’. Kepada pengertian inilah apa yang diucapkan Nabi Muhammad s.a.w. kepada Ali bin Abi Thalib r.a. dapat kita rujuk,
Dari apa yang telah dikemukakan kata-kata al-hayawan al-nathiq itu dapat diartikan sebagai ‘binatang berbahasa’ sebab bahasa merupakan hasil pemikiran manusia dan berbahasa dengan baik hanya mungkin dapat dicapai dengan kecerdasan berpikir. Berbahasa berarti menyampaikan simbol-simbol linguistik ke dalam suatu pola bermakna. Penyampaian itu hanya dapat dimengerti dengan sarana kerohanian yang tertinggi yang disebut `aql. Menurut Muhmmad Naquib al-Attas, kata `aql itu sendiri pada sasrnya bermakna sejenis ‘ikatan’ atau ‘simpul’, sehingga ia bisa diberi arti sebagai ‘atribut batin manusia yang mengikat dan menyimpulkan obyek-obyek ilmu dengan menggunakan sarana kata-kata’. Ingatlah bahwa al-Qur’an juga mengatakan bahwa hanya Adam (manusia) yang dikaruniai ‘pengetahuan tentang nama-nama’ oleh Allah. Dan pengetahuan tentang nama-nama itu tidak adalah pemahaman atau pengetahuan tentang obyek-obyek menyangkut perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaannya, cirri-ciri atau sifat-sifat khususnya, keadaan dan bentuknya, serta tempatnya dalam tatanan wujud metafisis dan fisis kehidupan.
Jadi kemuliaan manusia terutama ditentukan oleh pencapaian akalnya, serta realisasi dari apa yang dicapai oleh akalnya dalam kehidupan, dan kearifannya dalam mengarahkan hidupnya menuju kebaikan dan kebenaran. Kata-kata `aql berpadanan dengan kata-kata qalb (kalbu). Sebagaimana kalbu, yang merupakan alat pencerapan pengertian ruhaniah, demikian pula halnya dengan akal. Keduanya dengan demikian merupakan substansi (jawhar) ruhaniah yang dengannya ‘diri rasional’ (al-nafs al-nathiq) seseorang dapat membedakan kebenaran dari kepalsuan (lihat al-Jurjani 157).
Dalam membuat definisi yang benar tentang manusia sebagai al-hayawan al-nathiq ialah bila yang kita maksud dengan al-nathiq (nalar) dalam pendefinisian itu ialah ‘kemampuan untuk memahami pembicaraan dan kesanggupan untuk beranggung jawab atas perumusan makna – yang melibatkan penilaian, pembedaan, pencirian dan penjelasan, serta yang berkaitan dengan penyampaian kata-kata atau ungkapan dalam suatu pola yang bermakna. Kata-kata makna atau ma`na harus didasarkan pada arti kata ma’na sebagai konsep dalam ilmu dan falsafah Islam, yaitu “pengenalan tempat-tempat segala sesuatu dalam tatanan wujud masing-masing”. Pengenalan seperti hanya mungkin terjadi bilamana ‘hubungan’ sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam tatanan tersebut telah ‘terjelaskan’ dan ‘terpahamkan’. Hubungan tersebut menguraikan keteraturan tertentu.
Hakikat manusia, dalam pengertian ini, ditentukan oleh substansi ruhaniahnya yang berperan mengenal sesuatu secara benar, yaitu tempat sesuatu dalam tatanan wujudnya masing-masing dan hubungannya dengan yang lain dalam tatanan wujud yang lain yang membentuk keteratuiran. Obyek-obyek pengenalan yang memiliki keteraturan hubungan satu sama lain itulah yang merupakan obyek ilmu pengetahuan, yang dikatakan Nabi sebagai modal dan tangan beliau (sarana menguasai sesuatu),
Orang Islam sepakat bahwa semua ilmu datang dari Allah, dalam arti bahwa ilmu itu dapat dimiliki manusia bukan semata berdasar ikhtiarnya melainkan juga melalui petunjuk-Nya, yaitu wahyu yang tertera dalam al-Qur’an. Itu sebabnya ilmu-ilmu Qur’an atau ilmu agama di dalam tradisi intelektual diberi kedudukan tinggi dalam tatanan ilmu secara keseluruhan. Kita juga tahu bahwa cara ilmu itu datang, dan sarana kerohanian dan indera yang menerima dan menafsirkannya tidak sama. Oleh karena semua pengetahuan datang dari Allah dan ditafsirkan oleh jiwa melalui sarana kerohanian dan indera, maka definisi terbaik tentang ilmu – dengan mengacu kepada Allah sebagai sumbernya – adalah bahwa ilmu itu ialah ‘kehadiran/kedatangan (hushul) makna sesuatu atau suatu obyek pengetahuan di dalam jiwa” (hushul ma`na aw shurat ‘l-syay`i fi al-nafs).
Sedangkan apabila kita mengacu pada jiwa sebagai penafsirnya maka ilmu pengetahuan berarti “ sampainya (wushul) jiwa pada makna sesatu atau obyek pengetahuan”. Di sini seorang berilmu (`alim) berarti seseorang yang jiwanya memperoleh makna dari sesuatu yang diketahui”. Pengertian ini merangkum pula konsep-konsep kunci lain seperti konsep-konsep tentang ayat (tanda-tanda Tuhan). Konsep ini mengacu pada ‘kata-kata’ dan ‘sesuatu’ (yang merupakan tanda-tanda keagungan Tuhan). Berdasarkan ini para mufassir mendefinisikan ilmu secar epistemologis sebagai ‘sampainya makna ke da;am jiwa’ dan ‘m,akna sesuatu’ berarti makna atau artinya yang benar. Benar dalam pandangan Islam berkenaan dengan hakikat dan kebenaran sebagai diproyeksikan oleh sistem konseptual al-Qur’an.
Konsep lain yang berkenaan dengan itu konsep `amal (tindakan), sebab tanpa tindakan sesuatu itu tidak akan sampai kepada jiwa dan tanpa tindakan menyampaikannya maka ilmu pengetahuan tidak akan tersebar dan berkembang. Ilmu harus dilengkapi dengan amal. Kecuali itu ilmu juga harus mengandung makna sebagai pengetahuan tentang sesuatu dalam tempatnya yang benar atau tepat. Tempat yang benar atau tepat berarti tempat yang sempurna dan sejati sebagaimana ditunjukkan oleh istilah haqq, yang berarti hakikat dan sekaligus kebenaran yang berkenaan dengan hakikatnya.
Istilah haqq juga mengantung arti suatu penilaian (hukm), yaitu penilaian yang sesuai dengan hakikat atau situasi sebenarnya sesuatu. Maka ilmu yang haqq harus mengandung sesuatu penilaian yang dimaksud. Penilaian melibatkan kepercayan bahwa ajaran agama dan mazhab pemikiran dalam Islam itu benar. Lawan dari haqq ialah bathil, artinya,lebih kurang ialah kepalsuan, sesuatu yang sia-sia, nihilistic, tidak ada manfaatnya, gagal. Di lain hal kata-kata haqq juga mempunyai arti sebagai suatu keserasian dengan pensyaratan kearifan dan keadilan.
Pengetahuan atau ilmu yang benar adalah mengandung kearifan dan keadilan. Keadilan (`adl) di sini merupakan suatu kondisi harmonis dari benda-benda disebabkan berada di tempatnya yang benar dan tepat. Sedangkan kearifan (hikmah) adalah ilmu yang dianugerahkan Tuhan dan menjadikan penerimanya mampu mel;akukan penilaian yang benar.
Manusia yang ideal dalam Islam ialah manusia berilmu yang dapat mengamalkan ilmunya, tahu tempat yang haqq dan bathil dari obyek-obyek pengetahuan yang dikenalnya, serta mampu memberi penilaian yang arif dan adil terhadap sesuatu berdasarkan hakikat sesuatu dan tempatnya yang benar di alam wujud. Haqq juga berarti tugas atau kewajiban, dan karenanya manusia Muslim yang berilmu memiliki tanggungjawab dan kewajiban membangun kemanusiaan berdasarkan ajaran Islam.
Demikianlah telah kita kemukakan bahwa konsep Islam tentang kemanusiaan atau martabat manusia dikitari oleh gagasan-gagasan dasar seperti Makna (ma’na), ilmu (`ilm), adil (`adl), kebijaksanaan (hikmah), tindakan (`amal), kebenaran (haqq), nalar (nathiq), jiwa (nafs), kalbu (qalb), pikiran dan intelek (`aql), tatanan hirarkis dari penciptaan atau keberadaan (maratib dan darajat), tanda-tanda atau simbol-simbol (ayat) dan interpretasi (tafsir dan ta’wil).
Suatu konsep lagi yang penting dan merupakan konsep kunci yang berkenaan dengan pentingnya pendidikan. Konsep tersebut terkandung dalam kata adab, yaitu disiplin tubuh, jiwa, kalbu dan roh. Sebagai ilmu, adab merupakan metode untuk mengenal, mengetahui dan memahami sesuatu sehingga kita berada di tempat yang benar dalam meletakkan diri kita dan memandang segala sesuatu. Adab adalah cerminan dari kearifan dan kebijaksanaan. Dalam hubungannya dengan masyarakat, adab ialah tatanan yang adil dalam masyarakat manusia, yang di dalamnya martabat manusia menjadi perhatian utama. Ini dapat dikaitkan dengan arti kata asal dan dasar dari ata-kata adab itu sendiri.
Arti kata asal dari adab ialah undangan untuk suatu perjamuan atau majlis. Di dalam gagasan ini tersirat pengertian bahwa tuan rumah adalah seorang yang mulia dan orang banyak yang diundang untuk hadir dalam perjamuan yang ia selenggarakan adalah juga semestinya orang-orang yang pantas mendapatkan kehormatan untuk diundang. Oleh karena itu mereka mestinya orang-orang yang baik dan berpendidikan sehingga diharapkan bertingkah sesuai dengan keadaan, baik dalam berbicara dan bertindak, maupun dalam etiket. Ini menunjukkan bahwa manusia yang baik menurut Islam selain beriman dan berakhlaq mulia, ia juga seorang yang berilmu.
Ibnu Mas’ud menghubungkan kata adab dalam pengertian seperti telah diberikan dengan gambaran yang diberikan al-Qur’an tentang kitab suci itu sendiri, yaitu bahwa ia (al-Qur’an) merupakan “undangan Tuhan untuk menghadiri suatu perjamuan di atas bumi, dan kita dianjurkan ambil bagian di dalamnya dengan cara memiliki pengetahuan yang benar tentangnya”. Perjamuan yang dimaksud al-Qur’an ialah perjamuan ruhaniah dan pencapaian ilmu yang benar terhadapnya adalah memakan makanan terbaik yang dhidangkan dalam perjamuan itu.
Karena itulah para cerdik cendikia Muslim selalu mengaitkan ilmu dengan amal dan adab, dan memandang kombinasi harmonis ketiganya sebagai asas pendidikan untuk membina manusia yang baik. Sedangkan manusia yang baik adalah manusia yang ihsan dan adil. Kaitkanlah hal ini dengan sila kedua dari Pancasila yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Sila ini dengan jelasnya menyatakan bahwa gagasan kemanusiaan yang dikehendaki rumusan Pancasila ini ialah humanisme religius seperti tercermin dalam Islam.
Adab dikenal sebagai ilmu tentang tujuan mencari pengetahuan. Dalam Islam tujuan mencari ilmu ialah menanamkan kebaikan dalam diri manusia sebagai manusia dan manusia sebagai diri pribadi. Tujuan pendidikan dalam Islam ialah menghasilkan manusia yang baik, dalam pengertian akalnya berkembang sehat, moralnya baik, perasaan kemanusiaan dan keagamaannya luhur, beriman dan bertaqwa, serta sanggup mengamalkan ilmunya bagi masyarakat dan kemanusiaan.
Ilmu dan adab merupakan sarana penting bagi manusia untuk mencapai dan memahami martabat kemanusiaannya. Pendidikan Islam harus menekankan pada dua hal ini untuk mencapai tujuannya dalam membina manusia yang yang saleh dan cerdas dalam arti sesungguhnya. Ilmu dibagi dua sesuai sumbernya atau hubungannya dengan kitab suci al-Qur’an. Yang pertama, yang bersumber langsung dari al-Qur’an disebut ilmu agama, meliputi: Tafsir al-Qur’an, Sunnah, Ilmu Tauhid atau teologi, Syariah, Tasawuf (metafisika Islam), dan ilmu-ilmu bahasa Arab, seperti nahu, semantic, sastra dan leksikografinya. Yang kedua, ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh manusia dengan ikhtiar akal dan inderanya, disebut Ilmu Filosofis meliputi ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, ilmu alam dan matematika, ilmu-ilmu terapan dan tehnologi. Dalam Islam, kebenaran dan kemanfaatan ilmu-ilmu ini harus dirujuk pada al-Qur’an.
Selain itu dalam Islam kehidupan manusia tidak hanya didasarkan atas ilmu yang diperolehnya, tetapi juga atas moralitas atau akhlaq. Namun moralitas yang di maksud bukan moralitas yang sederhana dan statis. Apa yang dikatakan Nabi kepada Ali bin Abi Thalib seperti telah dikutip di awal pembicaraan ini, dapat dijadikan acuan. Sejalan dengan itu kehidupan manusia dalam Islam mesti diarahkan agar manusia itu mampu menguasai tingkah laku moralnya sesuai dengan ketentuan-ketentuan akal dan pemahaman berdasarkan ilmu yang benar, sekaligus penuh rasa syukur terhadap Penciptanya. Moralitas tidak menyangkut makhluq lain kecuali manusia. Sebab manusia dicipta dari dua macam substansi yang berbeda berupa jasad dan jiwa. Yang terakhir merupakan kesadaran Ilahi yang murni, sumber sehala perak dan laku tubuh. Inilah bagian dari diri manusia yang dibebani tanggung-jawab atau amanah. Jiwalah yang berbuat Dari dalam dan segala perilaku luar memberi kessasian tentang keadaan jiwa di dalam.”
Seperti dikatakan Jalaluddin Rumi, “Salat, puasa, haji dan jihad di jalan Allah memberi kesaksian tentang iman dalam hati. Memberi derma dan sumbangan serta menghilangkan sifat kikir juga memberikan kesaksian tentang fikiran-fikiran rahasia.” Selanjutnya Rumi mengatakan, “Puasa beratrti seseorang harus mengekang diri dari makanan yang diperbolehkan dimakan, karena itu tidak diragukan lagi ia akan menmghindari makan yang dilarang. Sedekah ialah memberikan harta miliknya sendiri, karena itu jelas ia tidak akan merampok harta orang lain.
Islam tidak mengenal dikotomi kehidupan di dunia ini dan dunia sana. Yang terbaik di dunia ini adalah juga yang terbaik di akhirat. Demikian pula Islam tidak memisahkan antara urusan dunia dan urusan akhirat, urusan keagamaan dan urusan politik, seperti juga tidak memisahkan kegiatan budaya dari kegiatan keagamaan. Dalam masyarakat Barat yang sekuler kedua urusan yang berbeda itu sering dipertentangkan. Ini merupakan implikasi dari pandangan dikotomis mereka berkenaan dengan roh dan badan, yang spiritual dan yang material, yang religius dan yang duniawi. Padahal keduanya melekat sebagai sifat ganda dari manusia yang saling berkaitan satu dengan yang lain.

Sebagai Khalifah Tuhan
Telah dikemukakan bahwa manusia terdiri dari roh dan badan, yang dengan demikian memiliki sifat-sifat ganda yang kemudian menjadi bawaan dalam hidupnya dan sekaligus menjadi persoalan yang runcing dalam kehidupannya. Sebagai konsekwensinya manusia juga memperoleh pengetahuan yang bersifat ganda, yaitu pengetahuan mengenai dunia ini dan pengetahuan berkenaan dunia yang lain.
Pengetahuan pertama, sebagaimana dikemukakan dalam Q 2:31 (surat al-Baqarah) disebut “pengetahuan nama-nama” (al-asma). Yang disebut pengetahuan tentang segala sesuatu di alam dunia (al-asyya’). Pengetahuan ini tidak menunjuk pada pengetahuan tentang esensi (dzat) atau tentang hal yang paling dalam (sirr) dar segala sesuatu – seperti misalnya tentang roh, sebab mengenai yang ini hanya sedikit manusia memperolehnya (lihat Q 17:85). Yang dimaksud dengan `ilm al-asma (pengetahuan nama-nama) ialah mengenai fenomena-fenomena atau kejadian-kejadian (`arad) yang dapat diindera dan sifat-sifat dari segala sesuatu yang berbeda. Ini dapat ditangkap atau dicerap melalui akal budi (mahsusat dan ma`qulat) yang dengan itu hubungannya dapay doiketahui, begitu pula ciri masing-masing yang berbeda.
Pengetahuan lain yang lebih tinggi yang dikaruniakan kepada manusia ialah pengetahuan tentang Allah (ma`rifa). Ini kita ketahui dalam Q 7:172) ketika Tuhan berfirman, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku bersaksi” (Alastu bi rabbikum? Qawl bala syahidna..). Inilah perjanjian pertama yang mengikat manusia pada Tuhan. Perjanjian itu diikrarkan sebelum manusia diturunkan ke dunia dalam bentuknya sebagai makhluq jasmani dan rohani. Dari sini kita mengetahui bahwa pengetahuan itu ditanamkan Tuhan dalam roh, kalbu dan jiwa manusia, bukan dalam badannya.
Konsekwensi dari perjanjian yang mengikat itu ialah bahwa dalam hidupnya manusia akan tetap mengakui Tuhan Yang Maha Esa sebagai sasaran penyembahannya, bukan yang selain-Nya. Inilah makna Islam sebagai al-din (agama), yaitu sebagai sesuatu yang mengikat hubungan manusia dengan Tuhannya yang esa, dan ikatan itu dapat berjalan terus apabila manusia menunjukkan kepatuhannya (aslama) kepada perintah dan larangan-Nya.
Dengan demikian din dan aslama, menurut para ulama, bersifat saling melengkapi dalam diri manusia dan menjadi sifat hakiki dari manusia, yang disebut sebagai fitrah. Tujuan sejati manusia ialah melaksanakan ibadah atau pengabdian kepada Tuhan (Q 5:56), dan kewajibannya adalah ketaatan kepada-Nya, sebab itulah yang sesuai dengan fitrah manusia. Yang bertentangan dengan itu tidak sesuai dengan fitrah manusia.
Tetapi manusia juga mempunyai sifat bawaan, yaitu pelupa (nisyan). Karena itu ia disebut insan. Setelah bersaksi bahwa Tuhan hanya satu dan berjanji akan mematuhi-Nya, karena terlena oleh kehidupan dunia maka ia menjadi lupa (nasiya) untuk memenuhi kewajiban dan tujuan hakiki hidupnya. Kelupaan atau kealaian itu menjadi penyebab ketidak-taatannya pada perintah agama, dan sifat ini sangat tercela serta cenderung menjadikan manusia tenggelam dalam ketidakadilan (zhulm) dan kebodohan (jahl). Sekalipun demikian manusia dianugerahi perlengkapan rohani untuk mengingat kembali apa yang diikrarkannya pada hari perjanjian (hari Alastu) dulu. Perlengkapan itu ialah akal pikiran dan kecerdasannya untuk membedakan yang salah dari yang benar. Tetapi semua itu terserah pada manusia untuk memilihnya, dengan konsekwensi yang mesti ditanggungnya sendiri pula.
Firman Tuhan dalam al-Qur’an (2:30) menyatakan bahwa manusia telah ditunjuk menjadi khalifah-Nya di atas bumi dan kepadanya dibebankan amanat, sebuah tanggungjawab yang berat untuk mengetur dan memelihara kehidupan di dunia. Mengatur di sini bukanlah mengatur sesuai dengan kemauannya sendiri atau demi kepentingan egonya sendiri, tetapi mengatur sesuai dengan kehendak Allah dan maksud-Nya (Q 33:72). Amanah menunut pertanggungjawaban untuk bersikap dan berbuat adil terhadap alam dan seisinya, sebagaimana juga terhadap sesama manusia. Mengatur di sini tidak hanya mencakup pengertian sosio-politik, atau mengendalikan alam dan kehidupan di dalamnya secara ilmiah. Tetapi yang lebih mendasar lagi ialah, dalam konsep itu, tercakup konsep lain yang disebut tabi’ah (tabiat). Konsep ini mengandung arti “pengaturan, pemerintahan, pengendalian dan pemeiharaan diri manusia oleh dirinya sendiri”,
Dalam mengatur dan mengendalikan hidupnya itu manusia tergantung pada sifat ganda dari tabiatnya: Tabiat atau bawan sifatnya yang tinggi ialah jiwa rasional (al-nafs al-nathiqah) dan yang lebih rendak ialah jiwa hewani (al-nafs al-hayawaniyah). Ketika Allah memaklumkan keesaan-Nya sebagai Tuhan, yang dituju ialah jiwa rasional manusia bukan jiwa hewaninya. Agar manusia memenuhi perjanjiannya dengan Allah dan sealu mmperteguh ikatan dengan perjanjiannya itu, manusia harus melaksanakannya dalam bentuk amal perbuatan dan taat menjalankan ibadah (sesuai syariah-Nya).
Kekuasaan dan pengaturan secara efektif jiwa rasional atas jiwa hewani itulah yang sebenarnya dinamakan din (agama); sedangkan yang dimaksud islam ialah kepatuhan dan ketaatan yang sadar dari jiwa hewani terhadap jiwa rasional. Oleh karema itu perilaku religius dalam Islam dikaitkan dengan kebebasan dan kesadaran jiwa rasional secara penuh untuk merealisasikan diri dan perjanjiannya dengan Allah, dan kebebasan itu berarti kekuatan (quwwa) dan kemampuan (wus’) untuk berbuat adil terhadap diri dan sesamanya, serta terhadap alam sekitarnya.
Mengenai adil atau keadilan, cerdik cendikia Muslim senantiasa merujuk kepada al-Qur;an surat al-Nahl 90: “Innal`Lahu ya`muru bi`l-`adl wa`l-ihsan” (Sesunggunya Allah menyuruh berbuat adil dan ihsan.” Seorang cendikiawan Melayu dari Aceh akhir abad ke-16 Bukhari al-Jauhari dalam kitabnya Taj al-Salatin, mengartikan bahwa adil ialah benar dalam pemikiran, pekerjaan, perbuatan, dan perkataan. Sedangkann ihsan diartikan sebagai kebajikan dalam berpikir, melahirkan pengetahuan, bekerja dan berkata-kata. Dikatakan misalnya bahwa seorang pemimpin yang adil adalah rahmat Tuhan yang tak ternilai harganya dan tanda pemimpin yang adil ialah berperikemanusiaan dan beradab, yaitu berpikir dan berpengetahuan benar tentang rakyatnya, serta berbuat benar dan berkata benar kepada rakyatnya. Semua itu dia lakukan karena mencintai rakyatnya.
Bukhari al-Jauhari mengutip kearifan yang berbunyi, “Raja yang tidak mencintai rakyatnya akan terhalang memasuki pintu sorga dan mengalami banyak kesukaran dalam meraih rahmat Allah s.w.t.”

Penutup
Pandangan Islam tentang kemanusiaan yang menjadi landasan ideal kebudayaan didasarkan atas Tauhid, kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah. Dalam keyakinan ini tiadak di alam semesta ini kekuasaan yang lebih tinggi selain kekuasaan Tuhan, begitu pula tidak ada hukum yang lebih tinggi selain Hukum Tuhan. Di hadapan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa kedudukan manusia adalah sama tanpa memandang ras, etnik, bangsa, jabatan, kedudukan, profesi, atau bidang kepakaran. Keyakinan ini yang membentuk dasar egalitarianisme islam, sebaaimana diucapkan Nabi dalam pidatonya pada haji wada’ di Mekkah pada tahun 632 M. Isi pidato ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Hujurat 13: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian ialah yang paling bertaqwa.”
Humanisme Islam berbeda dari humanisme sekular dari Barat yang menekankan pada semangat individualistis dan karenanya keentingan individu diletakkan lebih tinggi di atas kepentingan masyarakat. Pandangan ini secara umum telah melahirkan paham seperti individualisme dan liberalisme, yang memandang perorangan dalam masyarakat sebagai atom-atom terpisah yang pertaliannya hanya disebabkan oleh hukum alam dan sejarah yang dijelmakan dalam konstitusi dengan menempatkan negara, selain individu dengan segala kebebasannya, sebagai segala-galanya. Dalam Islam kepentingan individu tidak boleh mengalahkan kepentingan masyarakat dan ummah. Karena itu Islam melahirkan paham kemasyarakatan yang berbeda di bidang politik, pemerintahan, ekonomi, dan lain sebagainya. Juga di bidang kebudayaan seperti pendidikan, tradisi seni, tradisi ilmu, pemikiran falsafah dan kessusastraan.
Berkenaan dengan masalah kemasyarakatan, seperti kekuasaan politik misalnya, terkandung pendirian bahwa kekuasaan manusia di muka bumi ini relatif. Jadi tidak mutlak dan temporal, karena itu dalam keadaan genting dan mendatangkan kerusakan harus ditentang dan boleh digugat. Bagaimana kekuasaan dapat dibangun agar tidak menjadi otoriter, bahkan totaliter, dan hegemonik? Seorang raja atau pemimpin harus dipilih berdasarkan musyawarah (syura). Ini tercermin dalam pepatah-pepatah Melayu, Minangkabau, Aceh, Bugis, Madura, dan lain-lain. Dalam pepatah Minangkabau misalnya dikatakan, “Bulat air di pembuluh, bulat kata di mufakat.” Ini diimplementasikan dalam sila ke-4 Pancasila, “Kedaulatan Rakyat yang dipimpin oleh hikmah permusyawatan melalui perwakilan”.
Ajaran Islam yang menekankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan indvidu juga terlihat dalam pandangan mengenai hak milik. Hak milik tidak boleh dianggap sebagai sepenuhnya milik pribadi atau sekelompok orang, tetapi di dalamnya harus ada fungsi sosial yang diatur melalui prinsip amar ma`ruf. Berdasar inilah pemimpin-pemimpin Islam di Indonesia seperti H.O. S. Tjokroaminoto, K. H. Aghus Salim, Muhammad Hatta, Muhammad natsir dan Syafrudin Prawiranegara meyakini bahwa sistem kapitalisme liberal, apalagi ekonomi pasar bebas (neoliberalisme) bertentangan dengan ajaran dan nilai-nilai Islam. Bagi mereka Islam lebih sejalan dengan paham sosialisme religius, yang oleh Muhammad Hatta dirumuskan sebagai sistem Ekonomi Terpimpin. Sistem seperti itu, bilamana dilaksanakan secara konsisten, lebih menjamin terlaksananya keadilan sosial di bidang ekonomi.
Islam disebut pula sebagai agama kitab, yaitu agama yang keseluruhan dasar aqidah dan ibadahnya, dan prinsip-prinsip muamalah dan akhlaq pemeluknya. Oleh karena itu diwajibkan bagi semua pemeluknya agar belajar membaca dan menulis. Ini mendorong budaya baca tulis berkembang dalam peradaban Islam pada masa kejayaannya, dan dengan itu mendorong pula semangat belajar dan kegairahann mengembangkan ilmu pengetahuan, menulis kitab keagamaan dan menumbuhkan kesusastraan. Tetapi sayang budaya baca tulis ini merosot di kalangan luas umat Islam pada abad-abad ke-19 dan 20 M hingga sekarang, kecuali dalam masyarakat-masyarakat Muslim tertentu seperti di Iran dan Mesir.
Dari apa yang telah dipaparkan itu jelas bahwa dilihat dari perspektif Islam inti kebudayaan itu ialah kecerdasan, kebajikan dan kreativitas. Yang terakhir ini tepat jika diartikan sebagai ikhtiar yang bersungguh-sungguh untuk merealisasikan tingkat kecerdasan dan kebajikan, serta penghayatan dan pemahaman terhadap ajaran agama yang kita capai dalam bentuk karya dan amal saleh. Terlaksananya itu pula didasarkan pada cinta, baik cinta kepada agama maupun cinta kepada umat dan kemanusiaan. Cinta menumbuhkan semangat ukhuwah dan solidaritas yang tinggi. Dalam kitabnya al-Muqadimah Ibn Khaldun bahwa apa yang disebut kebudayaan ialah kondisi-kondisi kemanusiaan yang melebihi dari apa yang sekadar diperlukan di bidang pendidikn, ilmu pengetahuan, kebajikan, pemikiran, seni, dan lan organisasi kemasyarakatan. Kebodohan, ketidakadilan dan kejahatan adalah musuh kebudayaan dan peradaban. Tingginya suatu kebudayaan ditentukan tingkat oleh kecerdasan, kepribadian dan akhlaq suatu kaum.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

NABI YUNUS, SATU MUKJIZAT KEPADA PENDUDUK NINIWE.

NABI YUNUS, SATU MUKJIZAT KEPADA PENDUDUK NINIWE.
Dua peristiwa penting berlaku apabila Allah mengutus Nabi Yunus ke bandar Niniwe untuk memberi amaran kepada penduduk kota itu mengenai kemusnahan bandar itu kerana kejahatannya. Yang pertama telah kita pertimbangkan, iaitu pembuangan nabi ke dalam laut dan peristiwa dia berada di dalam perut ikan untuk masa tiga hari. Adalah berguna kepada kita sekarang untuk memerhatikan kisah tersebut mengikut cerita di dalam Al-Qu’ran dan membandingkannya dengan cerita di dalam Al-Kitab untuk memastikan setakat mana mereka bersetuju. Kisah di dalam Al-Qur’an membaca:

And lo! Jonah verily was of those sent (to warn). When he fled unto the laden ship, and then drew lots and was of those rejected; and the fish swallowed him while he was blameworthy; And had he not been one of those who glorify (Allah), He would have tarried in its belly till the day when they are raised. Then We cast him on a desert shore while he was sick; and We caused a tree of gourd to grow above him; and We sent him to a hundred thousand (folk) or more. And they believed, therefore We gave them comfort for a while. Surah 37.239-148.
Cerita ini agak terputus-putus kerana tiada urutan peristiwa-peristiwa yang menunjukkan bagaimana setiap kejadian berhubung kait dengan kejadian yang seterusnya. Hanya kitab Yunus di dalam Al-Kitab yang memberi kesinambungan seluruh kisah itu. Nabi Yunus bersetuju mengambil undi bersama-sama kemudi-kemudi kapal yang lain untuk mengenalpasti siapakah yang menjadi sebab ribut yang melanda yang hampir melemaskan mereka. Undi itu jatuh ke atasnya dan dia telah dibuang ke dalam laut seterusnya ditelah oleh ikan besar. Selepas tiga hari, ikan itu telah memuntahkannya ke atas tanah dan dia pun menuju ke bandar Niniwe, dengan perisytiharan bahawa bandar itu akan dimusnah dalam empat puluh hari.

Peristiwa yang kedua ialah pertaubatan seluruh penduduk kota itu, dari rajanya kepada hambanya, apabila mereka mendengar amaran dahsyat itu. Kejutnya, Nabi Yunus marah apabila dia nampak penduduk kota bertaubat kerana dia tahu Allah memang pengasih dan mungkin akan memaafkan bandar itu. Sebagai orang Yahudi yang patriotik, dia telah berharap untuk kemusnahannya kerana ianya bandar utama kerajaan Asyur dan merupakan satu ancaman kepada keselamatan penduduk Israel. Dalam kepanasan yang terik, dia telah menunggu dan mengharapkan kebinasaannya, lalu Allah menumbuhkan sejenis tumbuhan yang memberi naungan dan teduh kepada Nabi Yunus. Tetapi pada hari berikutnya, Allah perintah seekor ulat untuk melayukan pokok itu. Nabi Yunus marah kerana hal ini, tetapi Allah berfirman kepadanya:

Tanaman ini tumbuh dalam satu malam saja, dan layu pada hari berikutnya; engkau sama sekali tidak menumbuhkannya atau memeliharanya. Walaupun begitu, engkau berasa kasihan kepada tanaman ini. Aku pasti lebih kasihan kepada Niniwe, kota yang besar itu kerana di situ terdapat lebih daripada 120,000 orang anak ang tidak tahu memberzakan apa yang baik dan apa yang jahat, dan juga banyak sekali binatang. Yunus 4.10-11
Peristiwa kedua yang penting ini, iaitu pertaubatan seluruh kota Niniwe, lebih menakjubkan apabila kita menfaktorkan bahawa orang Asyur tidak kenal dan tidak takut akan Allah dan tidak mempunyai sebab jelas kenapa mereka harus mentaati firman dan amaran yang dibawa oleh Nabi Yunus. Tiada mukjizat bahawa kota itu akan dibinasakan dalam empat puluh hari sebagaimana dikhabarkan Yunus kerana kehidupan seharian berjalan seperti biasa tanpa sebarang tanda dalam perubahan cuaca atau bencana-bencana yang akan menandakan hampirnya sebarang bahaya.

Tiada awan ribut yang berkumpul di atas kota itu seperti yang berlaku di zaman nabi Nuh semasa bah besar melanda bumi. Niniwe ialah bandar kuat dan tidak berada di bawah sebarang ancaman peperangan. Apa yang didengari oleh kota itu hanyalah suara seorang nabi Yahudi yang datang mengisytiharkan: Empat puluh hari lagi, Niniwe akan dihancurkan.” (Yunus 3.4)

Kita sering nampak kartun orang tua-tua membawa tanda-tanda “Dunia akan berakhir hari ini” dan mereka itu satu sumber ejekan apabila mereka muncul di jalanraya dengan mesej-mesej sebegini. Memang orang Niniwe mungkin telah menganggap bahawa nabi Yunus sama seperti orang tua-tua itu dan senyum sinis ke atas usahanya, dan mungkin menjadi lebih keras kepala ke atas kandungan amaran-amarannya.

Apabila rasul Paulus melawat kota Athens, dia telah diterima dengan cara sebegitu. Sebagai balasan kepada khutbah-khutbahnya, ada sesetengah yang berkata, “Orang ini tahu apa?” (Kisah Para Rasul 17.18). Penduduk Niniwe yang mendengar nabi Yunus mungkin telah berpendapat sebagaimana orang Athens melayan rasul Paulus, “Nampaknya dia bercakap tentang dewa bangsa asing” (Kisah Para Rasul 17.18). Sebaliknya kita menemui bahawa:

Penduduk Niniwe percaya kepada perkhabaran Allah itu. Segenap rakyat mengambil keputusan untuk berpuasa, dan semua orang, baik yang kaya mahupun yang miskin, memakan kain guin untuk menunjukkan bahawa mereka menyesali dosa mereka. (Yunus 3.5)
Dari tahkta raja sehingga yang paling rendah sekali di kalangan rakyat biasa, beratus ribu penduduk Niniwe memandang serius amaran nabi Yunus, bertaubat dengan kuat sekali, dan mahu mengubah penghakiman yang bakal tiba ke atas bandar mereka. Yunus tidak berhasrat untuk meyakinkan mereka mengenai kebenaran amarannya yang serba ringkas dan mudah – dia hanya menyatakan sebagai satu hakikat. Dia juga tidak memberi sebarang jaminan bahawa Allah akan memaafkan mereka jika mereka bertaubat. Adalah bertentangan dengan hasrat dan niatnya supaya bandar itu akan dibinasakan samada orang Niniwe percayakan dia atau tidak.

Jadi kenapa seluruh kota itu bertaubat dengan harapan Allah tidak akan membinasakan mereka? (Yunus 3.9). Para sejarahwan Yahudi tertarik kepada kisah ini dan membuat kesimpulan bahawa jawapannya yang satu ialah, bahawa penduduk Niniwe tahu bahawa Yunus ditelan ikan sebagai penghakiman Allah ke atas kedegilannya, dan tahu bahawa dalam keadaan biasa Yunus sudah tentu mati tetapi Allah telah mengekalkan nyawanya dan membebaskannya dari perut ikan besar itu pada hari ketiga. Hanya ini sahajalah yang dapat menerangkan keseriusan penduduk Niniwe mendengar nabi Yunus dan harapan mereka terhadap kasih Allah sekiranya mereka bertaubat.

Para sejarahwan Yahudi berpendapat bahawa orang Niniwe percaya sekiranya Allah melayan nabi-nabi yang dikasihi-Nya dengan dahsyat sekali apabila mereka melanggar-Nya, apakah yang boleh diharapkan apabila seluruh kota itu benci akan Allah dan berada di bawah ikatan dosa?

Pendapat orang Yahudi betul. Hazrat Isa mengesahkan bahawa pertaubatan Niniwe datang kerana pengetahuan mereka mengenai penderitaan Nabi Yunus. Dengan jelas dia berkata:

Sebagaimana Nabi Yunus menjadi satu tanda bagi penduduk kota Niniwe, demikian juga Anak Manusia akan menjadi satu tanda bagi orang zaman ini. (Lukas 11.30)
Dengan kata-kata ini, Hazrat Isa mengesahkan kebenaran kisah pengalaman Nabi Yunus dan pertaubatan kota Niniwe dan mengesahkan bahawa kisah ini adalah sejarah. Pada masa yang sama dia juga memberi sokongan kepada teori bahawa orang Niniwe telah dengar mengenai penderitaan dan penyelamatan Nabi Yunus dan akibatnya, menerima pesanannya dengan begitu serius, dengan harapan penyelamatan yang sama dalam perubahan mereka dari kejahatan dalam pertaubatan kepada Allah. Dengan berkata bahawa Nabi Yunus menjadi satu tanda kepada penduduk kota Niniwe, dia menjelaskan bahawa kota itu tahu mengenai layanan Allah terhadap nabi yang degil itu. Ini menjelaskan keazaman orang Niniwe apabila mereka bertaubat di depan Allah.

Bukannya niat Hazrat Isa untuk mengesahkan spekulasi orang Yahudi. Dia ingin menunjukkan bahawa apa yang telah berlaku ketika zaman Nabi Yunus dan susulannya boleh berlaku kepada orang Israel dalam zamannya dan tanda yang hampir serupa akan diberi, yang akan membuka jalan kepada penyelamatan sesiapa yang menerimanya dan kemusnahan kepada mereka yang tidak.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MUKJIZAT NABI YUNUS

MUKJIZAT NABI YUNUS
Menurut kedua-dua Al-Kitab dan Al-Qur’an, Hazrat Isa al-Masih melakukan banyak mukjizat-mukjizat yang ajaib semasa pelayanan singkat tiga tahunnya di bumi Palestin. Ramai orang Yahudi percaya kepadanya setelah menyaksikan keajaiban-keajaiban dan mukjizat-mukjizat yang dilakukan. Mahupun begitu, pemimpin-pemimpin rakyat Yahudi enggan percayakan dia dan walaupun mukjizat-mukjizatnya terkenal luas, mereka sering memaksanya untuk melakukan mukjizat, mahupun tanda dari syurga (Matius 16.1). Pada satu ketika, Hazrat Isa menjawab bahawa dia hanya akan memberi mereka satu mukjizat sahaja:

“Alangkah jahat dan derhakanya orang zaman ini! Kamu meminta Aku melakukan mukjizat? Tidak! Satu-satunya mukjizat yang akan ditunjukkan kepada kamu adalah mukjizat Nabi Yunus. Sebagaimana Yunus tinggal tiga hari dan tiga malam di dalam perut ikan besar, demikian juga Anak Manusia akan tinggal tiga hari dan tiga malam di dalam perut bumi.”. Matius 12.39-40.
Nabi Yunus ialah satu daripada nabi-nabi bani Israil termasyhur, dan dia telah dipanggil Allah berkhabar kepada satu bandar Asyur iaitu Niniwe dan mengisytiharkan kemusnahan yang bakal menimpa. Akan tetapi Nabi Yunus melarikan diri di atas sebuah kapal ke Sepanyol, dan apabila angin ribut besar kencang memukul kapal, dia telah dibuang ke dalam laut lalu ditelan oleh seekor ikan besar. Namun, setelah tiga hari berada di dalam perut ikan, dia dimuntah hidup-hidup ke daratan lalu menuju ke bandar.

Hazrat Isa menggelar peristiwa tiga-hari di dalam perut ikan ini sebagai “Mukjizat Nabi Yunus” dan menyata bahawa itulah satu-satunya mukjizat yang rela diberinya kepada orang Yahudi yang enggan percayanya. Sekitar tahun 1976, Ahmed Deedat dari Islamic Propagation Centre di Durban menerbit sebuah risalah yang bertajuk “Christ was the Sign of Jonah?”. Tajuk itu mungkin membawa gambaran hasil penyelidikan teliti mengenai subjek tersebut kepada si pembaca. Akan tetapi, adalah didapati bahawa Deedat tidak sekali menjawab soalannya tetapi terus melancarkan serangan ke atas pernyataan Hazrat Isa itu dan berusaha untuk membidasnya. Hujah-hujahnya adalah berdasarkan dua andaian, iaitu sekiranya Nabi Yunus hidup sepanjang masanya di dalam perut ikan, maka Hazrat Isa sudah tentu masih hidup setelah diturunkan dari salib; dan jika Hazrat Isa disalibkan pada hari Jumaat dan bangkit pada pagi Ahad, maka dia tidak mungkin telah berada sepanjang tiga hari dan tiga malam di dalam kubur. Kita akan menimbangkan kedua-dua andaian ini menurut turutan dan selepas itu akan mengkaji secara menyeluruh subjek ini untuk mengenal apakah sebenarnya “Mukjizat Nabi Yunus” itu.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mukjizat Dalam Islam

26 Mukjizat
Table of contents
MUKJIZAT LAHIR
MUKJIZAT BATIN (MAKNAWIAH)
Mukjizat ialah hal-hal atau kejadian-kejadian yang berlaku yang Allah kurniakan pada rasul-rasul atau nabi-nabi yang menyalahi adat kebiasaan – khawariqul ‘adah ( ) atau ia berlaku di luar logik akal. Tujuannya untuk kemuliaan dan kebenaran di pihak para rasul dan nabi dan juga untuk melemahkan musuh-musuhnya.

Mukjizat itu terbahagi kepada dua bentuk iaitu: 1. Mukjizat lahir 2. Mukjizat batin (maknawiah)

MUKJIZAT LAHIR
Ia adalah perkara yang mencarik adat yang berlaku pada seseorang rasul dan nabi, yang dapat dilihat dengan mata lahir. Antara contohnya, tongkat dicampak bertukar menjadi ular, manusia atau binatang mati dihidupkan, penyakit kusta dan sopak dapat disembuhkan, mata buta dapat dicelikkan, air yang sedikit dapat diminum oleh ratusan orang, dibakar tidak hangus, tongkat dipukul ke batu menghasilkan pancutan air, bulan terbelah dua, tongkat dapat membelah lautan dan sebagainya.

MUKJIZAT BATIN (MAKNAWIAH)
Mukjizat ini hanya pada makna sahaja, tidak pada rupa. Terasa adanya dan boleh dinilai oleh mata hati (basyirah) sahaja. Tidak dapat dilihat oleh mata lahir. Antara contohnya ialah wahyuwahyu yang disampaikan kepada rasul dan nabi yang mengandungi bermacam-macam ilmu pengetahuan dan hukum-hakam tanpa mereka belajar seperti manusia biasa. Umpamanya Al Quran, Injil, Taurat, Zabur dan Suhuf-Suhuf, ianya tidak dapat dilihat dengan mata kepala kecuali setelah ditulis. Mukjizat batiniah yang lain ialah:

dapat tundukkan nafsu tanpa mujahadah
Allah kurniakan bersih dari dosa dan kesalahan
hati tidak terpaut dengan dunia dan kelazatan serta keindahannya
mendapat ilmu dan tarbiah terus dari Allah atau mendapat wahyu
manusia jatuh hati dan cinta luar biasa padanya
musuh merasa gerun dengan kehebatannya
sangat sabar dengan ujian-ujian dari kaumnya
azamnya terlalu kuat, hati terlalu teguh, cintanya dengan Allah terlalu tinggi dan lain-lain lagi.
Mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada nabi dan rasul bukan diberi mengikut kehendak para rasul dan nabi itu sendiri. Tetapi dicatu sesuai dengan hal semasa dan keperluan se389 seorang nabi dan rasul itu. Dan ia tidak boleh dipelajari tetapi hadiah atau mauhibbah atau wahbiah dari Allah. Dalam sejarah rasul-rasul dan nabi-nabi, mukjizat-mukjizat yang pernah diberikan kepada mereka tidak sama di antara satu sama lain. Kebiasaannya mereka diberi mukjizat di kedua-dua peringkat. Kalau dia seorang nabi; ertinya dia bukan seorang pemimpin yakni bukan untuk masyarakat; maka Allah berikan mukjizat yang sesuai dengan wataknya sebagai seorang abid. Mungkin mukjizat lahir atau batin yang diberikan itu sesuai dengan keperluannya sebagai abid.

Tetapi pada seorang Rasul yang dia adalah pemimpin umatnya, maka Allah kurniakan mukjizat lahir dan batin (maknawiah), sesuai dengan keperluannya berdepan dengan umat yang dipimpinnya. Rasul-rasul yang paling banyak mendapat mukjizat ialah rasul-rasul yang mendapat pangkat Ulul Azmi kerana mereka ini paling tahan, paling sabar berhadapan dengan ujian-ujian berat daripada kerenah kaumnya.

Pemberian mukjizat pada nabi-nabi dan rasul-rasul ini tidak sama kerana keperluan mereka juga berbeza antara satu sama lain. Adakalanya mereka tidak boleh ikut-mengikut di antara satu sama lain. Mukjizat Nabi Musa a.s. tidak sama dengan mukjizat Nabi Khaidir a.s. Padahal Nabi Musa a.s. itu lebih besar darjat dan keutamaannya dari Nabi Khaidir a.s. Nabi Musa salah seorang Ulul Azmi sedangkan Nabi Khaidir a.s. hanya nabi, bukan rasul. Bahkan sesetengah ulama masih mempertikaikan tentang kenabian Nabi Khaidir. Ada yang menganggap beliau hanya orang soleh yang bertaraf wali sahaja.

Tetapi antara mereka berdua di suatu ketika, Nabi Khaidir diberi mukjizat maknawiah (batin). Walhal di waktu itu tidak diberi kepada Nabi Musa. Tiga hari saja mereka dapat berkawan. Sedangkan sebelum itu Nabi Khaidir sudah ingatkan Nabi Musa, “Kau takkan sanggup ikut aku, kau takkan tahan sabar.”

Ini kerana peranan antara nabi dengan rasul itu berbeza. Nabi bukan pemimpin sedangkan rasul adalah pemimpin. Nabi mengikut takrifnya ialah seorang lelaki Islam yang merdeka, baligh dan berakal yang diberi wahyu tetapi hanya untuk dirinya sendiri dan tidak wajib menyampaikannya kepada orang lain. Bila tidak wajib menyampaikan, maknanya dia bukan seorang pemimpin.

Sedangkan rasul, seorang lelaki Islam yang merdeka, baligh dan berakal yang diberi wahyu dan dia wajib mengamalkannya dan wajib menyampaikan kepada umatnya. Maknanya, dia pemimpin dan pendidik.

Nabi Musa a.s. seorang rasul, dia memimpin dan mendidik kaumnya. Antara mukjizat maknawiyah yang ada pada Nabi Musa a.s. ialah tahan sabar, kuat azam, kuat jiwa berhadapan dengan Firaun. Sangat sabar bila disusah-susahkan oleh kerenah pengikutnya serta tahan berpindah-randah di tanah gurun panas yang mencengkam itu atau bila sejuk terlalu dingin. Ketabahan hatinya itu Allah nilai. Akhirnya Allah marah kepada Bani Israil dengan disesatkan mereka selama 40 tahun dan dibiarkan terumbang-ambing di Padang Teh. Nabi Musa juga turut sama teruji bersama-sama pengikutnya itu. Walhal kesalahan itu bukan dibuat olehya. Tetapi kerana Allah hendak menghukum orang lain, dia juga turut sama terhukum. Walau bagaimanapun dia tetap tahan menderita dan sabar dengan ujian yang sangat menyeksakan itu. Tahan jiwa, tahan sabar, kuat azam, teguh hati dan tabahnya dengan ujian yang berat yang datang dari perangai jahat umatnya. Ini mukjizat maknawiyah yang berlaku padanya. Tetapi pada kebanyakan orang, bentuk-bentuk ini tidak dianggapnya sebagai mukjizat kerana tidak dapat dilihat dengan mata kepala.

Manakala mukjizat maknawiah (batin) yang berlaku pada Nabi Khaidir lain pula bentuknya yakni dikasyafkan. Dia nampak apa yang bakal berlaku iaitu kapal akan dimusnahkan oleh perompak. Langsung kapal itu ditenggelamkannya.

Cuba bayangkan kalau Nabi Musa pun dapat mukjizat maknawiah begitu? Dia juga kemudiannya akan tenggelamkan kapal itu. Walhal dia pemimpin umatnya. Tentulah pengikutnya lebih sulit hendak mengikut kepimpinannya dan akan mempertikaikan perbuatannya. Dia dianggap pula sebagai perosak dan penzalim.

Macamlah pemimpin sekarang ini, kalau Allah kurniakan dia keramat maknawiah, katalah dia membakar Mercedes atau bunuh orang. Sebab dia nampak batin orang itu akan merompak dengan menggunakan Mercedes itu. Apa yang akan terjadi? Bolehkah orang ramai terima kepimpinan begitu? Tentu orang akan tolak bahkan boleh jadi orang akan tuduh dia sebagai pembunuh!

Jadi Nabi Khaidir diberi mukjizat bentuk itu kerana dia tidak memimpin ummah. Manakala Nabi Musa a.s. tidak diberikan mukjizat maknawiah seperti Nabi Khaidir a.s. di waktu itu. Kalaulah Nabi Musa diberi kasyaf, nampak apa yang akan terjadi sepertimana Nabi Khaidir, tentulah haru-biru masyarakat. Ada yang akan marah dan mengamuk kerana harta benda mereka dijahanamkan.

Walhal mengenai strategi perang atau berkait dengan halhal keselamatan ummah, Allah kurniakan mukjizat lahir pada Nabi Musa a.s. Bukan untuk dirinya tetapi untuk keselamatan umum. Buktinya, sewaktu tali-tali ahli-ahli sihir Firaun bertukar menjadi ular, tongkat Nabi Musalah yang berperanan menjadi ular besar yang menelan habis kesemua ular-ular Firaun itu. Bukankah ini di luar logik, di luar kebiasaan. Inilah mukjizat zahir. Allah lakukan sihir itu tidak memberi kesan langsung dan tongkat mampu menjadi ular besar yang menelan seluruh ular-ular itu. Ini menunjukkan mukjizat bentuk itu amat perlu di waktu itu untuk meyakinkan orang ramai yang menyaksikan tentang keagungan Allah dan demi menyelamatkan keyakinan umat. Di atas kejadian-kejadian inilah akhirnya ahli-ahli sihir itu turut beriman kepada Allah dan kepada Nabi Musa. Firman Allah SWT:

Maksudnya: “Lalu ahli-ahli sihir itu bersujud seraya berkata: ‘Kami telah beriman dengan Tuhan Harun dan Musa’.” (At Taha: 70)

Begitu juga mukjizat tongkat Nabi Musa dapat membelah laut sewaktu dikejar Firaun dan tentera-tenteranya. Ini perlu di waktu itu untuk keselamatan Nabi Musa dan kaumnya. Sekaligus membunuh mati penentang-penentang Allah itu. Ini juga luar biasa dan di luar logik. Mana mungkin hanya sebatang tongkat bisa membelah lautan? Mustahil. Tetapi itulah yang terjadi dan telah berlaku. Inilah mukjizat lahir Nabi Musa yang berlaku yang sangat diperlukan oleh Nabi Musa demi untuk menyelamatkan umatnya. Allah lakukan ini semua untuk keselamatan kekasih-Nya dan meyakinkan lagi kaumnya.

Contoh mukjizat Nabi Ibrahim pula, Raja Namrud dan rakyatnya kerana terlalu marah dengan pegangan dan perjuangan Nabi Ibrahim lantas menangkap dan mahu membunuhnya. Dicampakkan ke dalam api yang menjulang tinggi laksana gunung. Api mengikut kebiasaan adatnya membakar. Tetapi aneh! Api di waktu itu tidak pun membakar Nabi Ibrahim. Bahkan berlaku sebaliknya. Nabi Ibrahim terasa sejuk. Ini berlaku di luar kebiasaan atau di luar logik. Inilah mukjizat zahir. Allah lakukan api sebesar itu tidak menjadi sebab membakar Nabi Ibrahim. Hal ini amat perlu di waktu itu. Kalau tidak, tentunya Nabi Ibrahim sudah terbakar hangus.

Pada Rasulullah SAW pula, antara mukjizat yang berlaku padanya ialah diberi ilmu tanpa belajar. Pernah musuh-musuh baginda di kalangan orang-orang Yahudi telah menghantar pendita-penditanya untuk menguji Baginda. Mereka menyoal baginda dengan tujuan memberi malu, menjatuhkan maruah dan kewibawaan Baginda.

Biasanya seorang yang tidak pernah belajar di mana-mana sekolah, yang tidak tahu membaca dan menulis pula, tentulah tidak dapat menjawab soalan-soalan yang dikemukakan. Tetapi yang anehnya, semua soalan yang diajukan walau apa bentuk masalah atau persoalannya, semuanya dapat dijawab oleh Rasulullah SAW dengan baik dan tepat. Dan ini sangat memeranjatkan musuh. Bahkan mereka pula yang malu dan akur dengan jawapan-jawapan Baginda itu. Akhirnya mereka pulang dengan hampanya kerana ketua pendita mereka sendiri telah memeluk Islam, setelah mendapati kebenaran Rasulullah SAW. Ini berlaku di luar logik.

Inilah yang dikatakan mukjizat maknawiah. Allah kurniakan mukjizat ini menunjukkan perlu di waktu itu dan sesuai pula dengan hal-hal semasa kerana yang datang itu semuanya cerdik pandai yang hendak menguji keilmuan Rasulullah SAW. Kalau tidak tentulah kebenaran Allah dan Rasul-Nya akan ditolak oleh musuh buat selama-lamanya.

Daripada huraian-huraian di atas, nyatalah Allah kurniakan mukjizat pada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya bukan sesuka hati, tetapi dicatu mengikut keperluan semasa. Untuk tujuan kemudahan, keindahan dan keselamatan ummah. Kebanyakan nabi-nabi dan rasul-rasul diberikan mukjizat maknawiah lebih daripada mukjizat lahiriah. Rasul-rasul yang paling banyak mendapat mukjizat lahiriah dan maknawiah ialah di kalangan lima orang yang berpangkat Ulul Azmi sahaja. Iaitu Rasulullah SAW, Nabi Ibrahim, Nabi Isa, Nabi Musa dan Nabi Nuh a.s. Mereka ini semuanya terlalu kuat azam, hati teguh, hati terlalu kuat bergantung dengan Allah, sabar dan tabah dalam menghadapi ujian-ujian dan kedegilan kaum-kaum mereka. Demikianlah huraian secara ringkas tentang mukjizat. Moga-moga kita sama-sama memahaminya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hamzah Fansuri Pemula Puisi Indonesia Modern

Hamzah Fansuri Pelopor Satra Sufi Melayu
Syekh Hamzah Fansuri termasuk seorang dari para perintis jalan baru. Karya-karyanya menjadi pertanda lahirnya era Melayu Klasik. Namun demikian, tidak berarti bahwa sebelumnya rakyat Melayu tidak pernah menghasilkan karya puisi sama sekali. Namun Hamzah Fansuri ialah tokoh pemula puisi Melayu Klasi tertulis, sebagai suatu jenis sastra yang nyata dan mempunyai bentuknya yang tersendiri. Hamzah Fansuri juga telah membuka cakrawala perkembangan prosa mistik-keagamaan yang bersifat ilmiah. Namun tidak pula berarti prosa demikian sama sekali tidak terdapat di dalam kebudayaan Melayu sebelumnya. Tetapi prosa berbahasa Arab dan Parsi dengan gaya ilmiah yang tersebar didunia Melayu.
Hamzah Fansuri menyusun uraian semacam trilogi tasawuf dalam bahasa Melayu. Ketiga-tiga karangannya masing-masing berbeda dalam cara menyampaikan isinya. Karangan pertama, yang diberi judul Syarab al-‘Asikin, menjadi semacam kitab pedoman yang sistematis dan agak ringkas serta mudah dipahami bagi para santri baru, yang sedang menempuh jalan pengenalan Tuhan. Karangan prosa kedua Hamzah Fansuri berjudul Asrar al-Arifin, juga sebuah karangan ikhtiar tasawuf yang ditujukan bagi pembaca yang lebih tinggi pengetahuannya. Karangan Hamzah Fansuri ketiga sebuah kitab yang berjudul Al-Muntahi, yang memberi tafsir atas sebuah hadits terkenal; “Barang siapa mengenal diri sendiri, telah mengenal pula Tuhannya”. Al-Muntari dapat dipahami, sebagaimana mestinya hanya bagi para ahli tasawuf yang sudah maju dalam jalan ma’rifat.
Kitab-kitab karya prosa Hamzah Fansuri tidak seperti kitab-kitab karya ilmuwan yang menunjuk-nunjuk pandai dan membosankan, seperti tidak jarang dijumpai dalam sastra sufi Melayu dari zaman sesudah Hamzah Fansuri. Citra-citra yang banyak dipakai Hamzah Fansuri dalam karya-karya prosanya umumnya sederhana, mudah difahami, palstis dan ekspresif.
Lebih menarik lagi ialah citra-citra yang menghiasi puisi-puisi Hamzah Fansuri, yang tergolong dalam genre syair ciptaannya sendiri-sendiri. Syair-syair Hamzah Fansuri agak singkat dan menampakkan beberapa kemiripan dengan gazal parsi. Syair-yair karya Hamzah Fansuri bisa digolongkan dalam dua kelompok. Kelompok yang pertama kurang lebih serupa dengan kitab tasawuf, yang secara langsung mendakwahkan ajaran sufi. Kelompok yang kedua mengungkapkan ide-ide yang sama, tetapi secara tidak langsung melalui citra-citra simbolik yang khas sufi.
Biasanya syair-syair dakwah bermula dengan imbauanl “Aho, segala kita yang bernama insan”. Imbauan ini disusul dengan uraian tentang salah satu konsep tasawuf yang lazimnya sarat dengan kutipan-kutipan dan reminisensi al-Qur’an, hadits, ucapan-ucapan para sahabat Nabi dan tokoh tasawuf yang berwibawa.[47] Syair-syair simbolik Hamzah fansuri yang jauh berbeda dari syari-syair dakwahnya yang terus terang ini lebih menarik dari segi seni sastra. Ungkapan-ungkapan dalam bahasa metafisika dan ilmu ilahi hampir tidak terdapat didalamnya. Kutipan reminisensi dari al-Qur’an memang sedikit sekali. Dan kadang-kadang kutipan itupun tampil dalam versi Melayu, bukannya versi Arab seperti misalnya dalma baris tentang Yang Maha Tinggi; “Ia pertipu dan banyak daya”, yang bersesuaian dengan ayat-ayat al-Qur’an.[48] Syair-syair simbolik Hamzah Fansuri tidak dapat dipahami tanpa pengetahuan yang diperoleh sebelumnya dan baku ataupun dari guru. Itulah beda syari-syair tersebut dari syair dakwah Hamzah Fansuri.[49]
Estetika sufi berdasarkan cinta (‘isq), dan cinta adalah tema sentral sastra sufi. Kitab karangan Hamzah Fansuri sendiri berjudul Syarab al-Asikin dan minuman pecinta yang berani ialah anggur tauhid, oleh karena itu tak mungkin membicarakan puisi-puisi penyair sufi tanpa membicarakan ‘isq dan keindahan tertinggi yang menimbulkan ‘isq.[50]
Puisi-puisi Hamzah Fansuri merupakan gema dari dunia yang lebih tinggi, yaitu dunia Ketuhanan Syekh merujuk sabda Nabi yang mengatakan bahwa segala perbuatan seorang mukmin itu mesti disertai dengan kesempurnaan, dan kesempurnaan suatu perbuatan terletak pada adanya puji-pujian kepada Tuhannya, yakni sejauhmana ia merefleksikan sifat-sifat Tuhan. Syair-syair sufi sepenuhnya merupakan doa dan puji-pujian kepada Tuhan atau ajakan kesana kepada para pembacanya.[51]
3. Hamzah Fansuri Pemula Puisi Indonesia Modern
A.Teeuw menyebutkan paling tidak ada tiga corak puisi Hamzah Fansuri sehingga dapat disebut modern dalam permulaan puisi Indonesia bukan Melayu saja. Pertama, individulitasnya; puisinya tidak anonim seperti biasa terjadi dengan sastra Melayu lama. Hamzah Fansuri dengan tegas mengemukakan dirinya sebagai pengarang syairnya, tidak hanya dalam sebuah kolofon atau pascakata, tetapi didalam teks puisinya sendiri, dia menerapadukan namanya dengan kepribadiannya dalam puisinya. Dengan demikian Hamzah Fansuri melambangkan era baru dalam sastra, sebagai ungkapan seorang individu yang memanisfestasikan kepribadian secara sadar dalam puisi. Inilah justru ciri kemodernan, juga dalam sejarah sastra di Eropa. Seakan-akan dia menonjolkan hak ciptanya secara eksplisit. Kedua, Hamzah Fansuri menciptakan bentuk puisi baru untuk mengungkapkan gerak sukmanya, dengan istilah Tatengkeng. Hal itu kita lihat kemudian dalam perkembangan puisi Indonesia pada abad ini, misalnya dengan penciptaan soneta oleh penyair tahun 20-an dan 30-an.
Ketiga, menyangkut pemakaian bahasa yang sangat kreatif. Misalnya pemakaian kata-kata Arab yang sangat menonjol dalam puisinya. Mungkin pada penglihatan pertama pembaca menganggap pemakaian kata-kata Arab itu berlebihan dan mengganggu. Pembaca yang suka didendangkan oleh puisi, dan yang menganggap puisi sesuatu yang dapat dinikmati dengan emosi saja, tanpa perlu berpikir, pasti merasa kecewa atau bosan ketika membaca puisi ini untuk pertama kali. Puisi Hamzah Fansuri memerlukan pengetahuan luas dibidang bahasa dan kebudayaan Arab-Parsi, termasuk pengetahuan tentang agama Islam, khususnya aspek tasawufnya. Tanpa pengetahuan semacam ini puisi Hamzah Fansuri tak terpahami. Tetapi dari segi inipun puisi Hamzah Fansuri sebagai puisi inovatif bukan tak ada kemiripannya dengan puisi Chairil Anwar yang juga pada masa itu mungkin sukar dipahami oleh kebanyakan pembacanya. Kekayaan daya pikir dan luasnya pengetahuan yang diperlukan itu bukanlah tanda kelemahan atau ketakberhasilan puisi Hamzah Fansuri. Puisi Hamzah Fansuri juga kaya dengan unsur puitik, diksi puisinya khas, ungkapan-ungkapannya kaya dan orisinil, begitu juga tamsil dan imagenya. Hamzah Fansuri menciptakan karya yang individual, modern, kaya akan kreativitas dan iventivitas bahasa. Dengan memasukkan banyak kata-kata Arab, bahkan ayat-ayat al-Qur’an, Hamzah Fansuri bukannya menerjemahkan bahan-bahan Arab tetapi mengintegrasikannnya kedalam syair yang diciptakannya, yang dengan itu bahasa Melayu baru dapat dilahirkan.[52]

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SEJARAH HIDUP HAMZAH FANSURI

SEJARAH HIDUP HAMZAH FANSURI
A. Riwayat Hidup Syekh Hamzah Fansuri
Syekh Hamzah Fansuri adalah seorang cendekiawan, ulama tasawuf, sastrawan dan budayawan terkemuka yang diperkirakan hidup antara abad ke-16 sampai awal ke-17.[26] Tahun lahir dan wafat Syekh tak diketahui dengan pasti. Riwayat hidup Syekhpun sedikit sekali diketahui. Sekalipun demikian, dipercaya bahwa Hamzah Fansuri hidup antara pertengahan abad ke-16 hingga awal abad ke-17. Kejian terbaru dari Bargansky menginformasikan bahwa Syekh hidup hingga akhir masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dan mungkin wafat beberapa tahun sebelum kedatangan Nuruddin ar-Raniry yang keduakalinya di Aceh pada tahu 1637. Sebelumnya, Syed Muhammad Naguib al-Attas berpendapat bahwa Syekh hidup sampai masa awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang masyhur itu.
Barginsky mengutip laporan laksamana Perancis Bealeu yang telah dua kali mengunjungi Aceh. Kungjungan kedua dilakukan pada tahun 1620 semasa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Dalam laporannya, Bealeu antara lain mengatakan; ketika melewati istana dia melihat Sultan Aceh murka kepada seorang tokoh kerohanian yang berwajah kenabian dengan menutup pintu keras-keras. Seandainya tokoh ini seorang pejabat istana seperti Syamsuddin Pasai, sudah tentu tak akan dimurkai oleh Sultan. Selain itu, dia tentu tak akan berani menegur Sultan yang sedang menyiapkan upacara meditasi menyambut datangnya bulan purnama. Bargansky memastikan bahwa tokoh kerohanian itu adalah Syekh Hamzah Fansuri, sedang pejabat keagamaan yang tampak bersama Sultan adalah Syekh Syamsuddin Pasai yang ketika itu menjabat perdana menteri. Keberanian tokoh kerohanian itu untuk menegur Sultan sejalan dengan keberanian Syekh Hamzah Fansuri menyampaikan kritik yang ditujukan kepada Sultan, khususnya sehubungan dengan penyimpangan praktek keagamaan dan kerohanian yang dilakukan para pembesar istana Aceh termasuk Sultan.[27]
Tempat lahir Hamzah Fansuri juga menimbulkan perselisihan faham. Pada umumnya para sarjana berpendapat bahwa Hamzah Fansuri dilahirkan di Barus, sebuah bandar yang terletak di pandat Barat Sumatera Utara diantara Singkel dan Sibolga.[28] Ia berasal dari keluarga Fansuri, yang telah turun temurun berdiam di Fansur.[29] Fansuri adalah nama yang diberikan pelaut zaman dahulu kala. Tetapi menurut Syed Muhammad Naguib al-Attas, Hamzah Fansuri dilahirkan di Syahri Nawi, yaitu Ayuthia, Ibukota Siam yang didirikan pada tahun 1350. Syed Muhammad al-Attas sampai kepada kesimpulan berdasarkan dua lirik syair Hamzah Fansuri yang berbunyi:
“Hamzah nin asalnya Fansuri
Mendapat wujud di tanah Syahr Nawi”[30]
Terdapat beberapa kata kunci yang dapat memberikan petunjuk tempat kelahirannya, yaitu “wujud” dan “Syahr Nawi”. Al-Attas merujuk kepada “wujud” sebagai keberadaan (laghir) Hamzah Fansuri. Ide ini membawanya kepada keyakinan bahwa meskipun orang tuanya berasal dari Barus, Hamzah lahir di Syahr Nawi, sebuah nama tua dari kota Ayuthia.[31]
Professor Dreweas tidak setuju dengan tafsiran pada dua lirik di atas. Menurut Drewes, mendapat wujud berarti mendapat ajaran tentang wujudiyah. Kota Syahri Nawi pada paruh kedua abad ke-16 adalah kota dagang yang banyak dikunjungi oleh pedagang Islam dari India, Paris, Turki dan Arab. Sedah tentu banyak ulama juga tinggal di bandar ini, dan di bandar inilah Hamzah berkenalan dengan ajaran wujudiyah yang kemudian dikembangkannya di Aceh.[32]
Ia banyak melakukan perjalanan, antara lain ke Kudus, Banten, Johor, Siam, India, Persia, Irak, Mekkeh dan Madinah. Seperti sufi lainnya, pengembaraannya bertujuan untuk mencari ma’rifat Allah SWT.[33] Setelah Hamzah fansuri mendapat pendidikan di Singkel dan beberapa tempat lainnya di Aceh, beliau meneruskan perjalanannya ke India, Persia dan Arab. Karena itu beliau fasih berbahasa Melayu, Urdu, Parsi dan Arab. Dipelajari ilmu fiqh, tasawuf, tauhid, akhlaq, mantik, sejarah, bahasa Arab dan sastranya. Ilmu-ilmu itu pula beliau ajarkan dengan tekun kepada murid-muridnya di Banda Aceh, Geugang, Barus dan Singkel. Beliau membangun dan memimpin pesantren di Oboh Simpangkanan Singkel sebagaimana abangnya Syekh Ali Fansuri membangun dan memimpin pesantren di Simpangkiri Singkel, pesantren Simpangkanan merupakan lanjutan dari Simpangkiri.[34]
Bersama-sama dengan Syekh Syamsuddin as-Sumatrani, Hamzah Fansuri adalah tokoh Wujudiyah (penganut paham Wahdatul Wujud). Ia dianggap sebagai guru Syamsuddin as-Sumatrani. Bersama dengan muridnya ini, Hamzah Fansuri dituduh menyebarkan ajaran-ajaran sesat oleh Nuruddin ar-Raniry, ulama yang paling berpengaruh di istana Sultan Iskandar Muda.[35] Ar-Raniry menyatakan didalam khutbah-khutbahnya bahwa ajaran tasawuf Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani termasuk ajaran kaum zindiq dan panteis. Ribuan buku karangan penulis Wujudiyah ditumpuk dihadapan Masjid Raya Kutaraja untuk dibakar sampai musnah.[36]
Hamzah Fansuri adalah seorang ahli tasawuf, zahid dan mistik yang mencari penyatuan dnegan al-khaliq dan menemunya dijalan kasih Allah atau Isyk. Bertujuan mengenal inti sari ajaran tasawuf, ia lama mengembara; misalnya ke Baghdad, kota yang menjadi pusat tarekat Qadariyah, kemudian juga ke kota suci Mekkah dan Madinah, serta Kudus di Jawa.[37] Pernyataan ini tersirat dalam syair berikut:
“asalnya manikan tiada kan layu
Dengan ilmu dunia dimanakan payu”[38]
Syekh Hamzah Fansuri menggunakan kata payu (bahasa Jawa) tampak sekali bahwa Syekh menguasai bahasa Jawa. Syair ini menepis keragu-raguan bahwa kunjungan Syekh ke Kudus bukan sekedar bermakna simbolis.[39] Drewes membantah pendapat diatas yang menyatakan bahwa Hamzah Fansuri pernah mengembara dari Barus ke Kudus. Menurutnya, Hamzah Fansuri tidak pernah mengatakan bahwa dia pernah menempuh perjalanan dari Barus ke Kudus.[40]
Agaknya Hamzah Fansuri mencapai penyatuannya dengan al-khaliq yangsudah lama dicita-citakannya sepulang dari Kudus, yaitu selama ia tinggal di Syahri Nawi, sebuah kampung kecil dan terpenting, kampung ini terletak ditengah hutan. Menurut Hamzah Fansuri disinilah ia mengalami keadaan fana, menemui wujud dirinya yang sejati dan seakan-akan dilahirkan kembali. Karena itu, didalam puisi-puisinya terkadang menyebut dirinya sebagai anak Fansur-Barus dan terkadang anak Syahr-Nawi.
Pada zaman Sultan Alauddin Riayat Syah dan Sultan Iskandar Muda, yaitu ketika Hamzah Fansuri menulis karya-karyanya, tasawuf sedang menjadi semacam kegemaran atau bahkan gaya hidup masyarakat. Hamzah Fanzuri yang berpendidikan tinggi dan telah mendapat pencerahan jiwa, disana-sini melihat akibat-akibat tersebarnya gaya hidup yang agak dangkal itu. Dalam salah satu syairnya, dia mengatakan bahwa Tuhan lebih dekat pada hamba-Nya dari pada Hablil Warid atau urat nadi leher, menyindir anak-anak muda dan orang-orang tua yang tiba-tiba menjadi sufi dan seia sekata maju kehutan belantara mencari Tuhan. Hamzah Fansuri merasa gusar bukan saja karena setiap orang mengaku dirinya berhak memasuki rahasia tasawuf yang sejati. Ia terlebih-lebih mengecam orang-orang yang masih menempuh ajaran yoga dalam usaha mereka untuk mengenal al-Haq dan orang-orang kolot yang menduduki jabatan berpengaruh di istana Sultan dan memandang sufi sebagai murtad.[41]
Hamzah Fansuri telah berhasil mngukir sejarah pribadinya dalam khazanah pembaharuan keislaman di dunia Islam. Karya-karyanya telah berhasil membuka dan memperluas wawasan berpikir umat Islam terhadap berbagai disiplin ilmu yang dikuasainya. Hamzah Fansuri telah berusaha mengungkapkan semua ajaran melalui karya sastra dan mistis Islami dengan kedalaman isi dan pesan yang gagal sangat mengagumkan. Kepeloporan Hamzah Fansuri dibidang sastra ini diakui oleh pakar Belandan Valentjin yang pernah datang ke Aceh, dimana ia menyatakan bahwa Hamzah Fansuri telah berhasil dengan sukses menggambarkan kebesaran Aceh masa lampau melalui syair-syairnya.
Hamzah Fansuri dipengaruhi oleh pemikiran mistiko falsafi yang demikian tinggi, maka ajarannya tidak hanya berarti pada maqam ma’rifah sebagaimana kaum mistiko-sunni, akan tetapi melampauinya ke tingkat paling puncak yaitu merasakan kebersatuan diri dengan Tuhan yang disebut itthad.[42]
Aspek lain dari Hamzah Fansuri ialah kepedulian sosialnya, khususnya yang berkaitan dengan perbedaan strata sosial antara para budak dan tuan mereka. Sebagai seorang sufi, Hamzah Fansuri mengutuk fenomena ini sebagai tercermin sebagai berikut:
“Aho segala kamu anak ‘alim
Jangan bersbubhat dengan yang zalim
Karena Rasul Allah sempurna hakim
Melarang kita sekalian khadim”
Kepedulian Hamzah terhadap kelas sosial dapat dipahami sebagai akibat dari sebuah kenyataan dimana perbudakan merupakan hal yang lazim dikalangan masyarakat Islam saat itu. Di Aceh, sebagaimana yang dilaporkan oleh Bealeu, “penguasa menggunakan mereka untuk memotong kayu, menggali batu, membuat senjata mortir dan bengunan”.[43] Kehadiran Syekh Hamzah Fansuri tidak hanya sebagai seorang ulama tasawuf, cendekiawan dan sastrawan terkemuka tetapi juga telah berpartisipasi sebagai pembaharu didalam bidang kerohanian, keilmuan, filsafat dan bahasa. Kritik-kritik Syekh Hamzah Fansuri terhadap perilaku politik para penguasa dan perilaku moral orang kaya yang sangat tajam, menunjukkan bahwa Syekh Hamzah Fansuri adalah seorang intelektual yang berani dimasanya. Kritik-kritik Syekh juga ditujukan kepada ahli-ahli tarekat yang mengamalkan praktekl yoga yang sesat dan jauh dari amalan syari’at.[44]
B. Kepenyairan Syekh Hamzah Fansuri
1. Hazmah Fansuri Sebagai Pembaru
Syekh Hamzah Fansuri bukan hanya sebagai seorang ulama tasawuf dan sastrawan terkemuka, tapi juga perintis dan pelopor. Sumbangannya sangat besar bagi perkembangan kebudayaan Islam, khususnya dibidang kerohanian, keilmuan, filsafat, bahasa dan sastra. Di dalam hampir semua bidang ini, Syekh juga seorang pelopor dan pembaru. Kritik-kritiknya yang tajam terhadap perilaku politik dan moral raja-raja, para bangsawan dan orang-orang kaya yang menemparkannya sebagai seorang intelektual yang berani pada zamannya. Karena itu, tidak mengherankan apabila kalangan istana Aceh tidak begitu menyukai kegiatan Syekh dan para pengikutnya. Salah satu akibatnya ialah, baik Hikayat Aceh maupun Bustan as-Salatin dua sumber penting sejarah Aceh yang ditulis atas perintah Sultan Aceh, tidak sepatah katapun menyebutnya namanya, baik sebagai tokoh spiritual maupuan sastra.
Dibidang keilmuan Syekh telah mempelopori penulisan risalah tasawuf atau keagamaan yang demikian sistematis dan bersifat ilmiah. Sebelum karya Syekh muncul, masyarakat muslim Melayu mempelajari masalah-masalah agama, tasawuf dan sastra melalui kitab-kitab yang ditulis didalam bahasa Arab atau Persia. Dibidang sastra, Syekh mempelopori pula penulisan puisi-puisi filosofi dan mistik bercorak Islam. Kedalaman kandungan puisi-puisinya sukar ditandingi oleh penyair lain yang sezaman ataupun sesudahnya. Penulis-penulis Melayu abad ke-17 dan ke-18 kebanyakan berada dibawah bayang-bayang kegeniusan dan kepiawaian Syekh Hamzah Fansuri.[45]
Dibidang filsafat, ilmu tafsir dan telaah sastra, Hamzah Fansuri telah pula mempelopori penerapan metode takwil atau hermeneutika kerohanian. Kepiawaian Syekh dibidang hermeneutika terlihat didalam Asrar al’Arifin, sebuah risalah tasawuf penting berbobot yang pernah dihasilkan oleh ahli tasawuf nusantara. Disitu Syekh memberi tafsir dan takwil atau puisinya sendiri, dengan nalisis yang tajam dengan landasan pengetahuan yang luas mencakup metafisika, teologi, logika, epistimilogi dan estetika.[46]

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tajus al-Salatin VS Bustan al-Salatin

Tajus al-Salatin VS Bustan al-Salatin Dalam Hal Kepimpinan Wanita
Dalam dunia kesusasteraan Melayu tradisional terdapat dua buah karya terbesar dalam genre sastera ketatanegaraan yang membicarakan tentang kualiti diri sebagai pemimpin. Karya tersebut ialah Taj al-Salatin yang dikarang oleh Bukhari al-Jauhari pada tahun 1603 di Acheh dan Bustan al-Salatin yang dikarang oleh Nuruddin ar-Raniri pada tahun 1636. Kedua-dua karya ini dijadikan panduan dan cerminan kepada pemerintah dalam mentadbir negara.

Kedua-dua karya ini juga dinyatakan tentang pemerintahan oleh raja wanita. Melalui artikel Women Rajas in Two Classical Malay Texts: the Bustan al-Salatin and the Taj al-Salatin yang ditulis oleh Mulaika Hijjas membicarakan perbandingan terhadap perbezaan pandangan pengarang Bustan al-Salatin dengan pengarang Taj al-Salatin tentang wanita yang menjadi raja dalam tampuk pemerintahan. Menurut Nuruddin ar-Raniri dalam Bustan al-Salatin wanita boleh menjadi pemimpin asalkan wanita itu berasal dari keturunan raja yang memerintah kerana asalkan wanita tersebut seorang yang kaya dan dihormati dalam kalangan masyarakat. Dalam hal ini, raja wanita diukur berdasarkan aspek darah keturunan diraja. Segala aspek yang memaparkan kelemahan wanita diketepikan demi menjaga nama baik serta kesucian darah keturunnya. Pengarang menyatakan bahawa darah diraja yang mengalir dalam tubuh setiap waris perlu dikekalkan walaupun berajakan seorang wanita. Nuruddin ar-Raniri juga memuji pemerintahan Sultan Taj al-Alam iaitu raja wanita pertama yang memerintah Acheh selepas kemangkatan Sultan Iskandar Thani. Hal jelas diceritakan dalam bab dua fasal tiga belas yang menceritakan kejayaan Sultan Taju’ l-Alam Safiatun-Din Shah yang mengambil tampuk pemerintahan dari suaminya dilihat penuh kehebatan dari segi adat dan kekayaan kerajaan Nurudin juga menyamai pemerintahan Sultan Taj al-Alam dengan pemerintahan Sultan Iskandar Thani. Hal ini ternyata berbeza dengan realiti sejarah kerajaan Acheh apabila dilihat negara-negara seperti Pahang, Kedah dan Perlak yang asal dari jajahan takluk Acheh melepaskan diri. Hal ini jelas membuktikan bahawa pemerintahan daripada raja perempuan adalah lemah.

Pandangan Bukhari al-Jauhari dalam karya Tajus al-Salatin tidak menolak akan kepimpinan wanita tetapi boleh dilakukan dalam keadaan tertentu untuk mengelak fitnah, darurat dan sebagainya. Selain itu dalam karya ini ada mengemukakan tentang sifat-sifat wanita dan syarat-syarat yang perlu dilakukan apabila seseorang wanita menjadi pemimpin. Dalam Tajus al-Salatin antara fasal lima hingga sembilan Bukhari al-Jauhari membicarakan tentang raja dan pemerintahan yang menyatakan tentang peranan, sifat dan ciri-ciri seorang raja. Menurut Bukhari al-Jauhari sifat-sifat wanita digambarkan sebagai insan yang kurang budi, beremosi, lemah, perlu dilindungi oleh lelaki, dan tidak boleh berperang berbanding lelaki. Fitrah kejadian wanita juga dilihat menjadi faktor kepada keterbatasan wanita untuk menjadi pemimpin. Seperti dengan kitaran haidnya setiap bulan, mengandung dan melahirkan anak berbanding dengan fitrah lelaki. Wanita juga dilihat dari segi pandangan Islam, mempunyai keterikatan terhadap batas-batas agama. Sebagai contohnya wanita tidak boleh menjadi iman dalam sembahyang berjemaah, menjadi ketua keluarga, dan batas auratnya wajib dijaga daripada bukan muhrim serta mempunyai tanggungjawab yang besar apabila sudah bersuami, mempunyai anak-anak dan berkeluarga. Menurut Bukhari al-Jauhari lagi wanita boleh menjadi pemimpin dalam bahagian-bahagia tertentu seperti pemimpin kepada kaum mereka, pemimpin dalam soal-soal yang berkaitan dengan kewanitaan dan sebagainya yang layak dan besesuian dengan hak asasi wanita. Sekiranya layak bagi seorang wanita memegang kepimpinan yang menyamai lelaki adalah seharusnya mempunyai penasihat lelaki seeloknya yang muhrin bagi melancarkan peranan dan tanggungjawabnya disamping itu dapat menjaga dan melindungi batas-batas dan fitrahnya sebagai wanita dari pandangan Islam.

Sehubungan itu, perbandingan dua pandangan tokoh agama dalam dua buah karya besar iaitu Bustan al-Salatin dan Tajus al-Salatin dilihat mempunyai perbezaan yang ketara. Kewajaran pandangan kedua-dua karya ini dilihat berpihak kepada karya Tajus al-Salatin yang memberi gambaran jelas tentang kedudukan wanita sebagai pemimpin dengan terperinci dan mengikut landasan agama Islam. Jika terdapat kesulitan tertentu, barulah wanita boleh diambil untuk menjadi pemimpin dengan mengikuti syarat-syarat yang tertentu. Namun telah ditegaskan bahawa lebih elok seorang pemimpin itu haruslah daripada seorang lelaki.

Tajus Salatin Hubungannya Dengan Pemimpin Era Globalisasi

Taj al-Salatin dikarang oleh Bukhari Al-Jauhari pada tahun 1603 yang dikaitkan dengan sebuah tempat di Bukhara iaitu salah sebuah tempat di Uzbekistan. Pada masa ini para sarjana sastera masih belum mengetahui siapa sebenarnya Bukhari Al-Jauhari, namun begitu ada ura-ura mengatakan bahawa nama Bukhari Al-Jauhari berkait rapat dengan seorang tokoh Islam iaitu Iman al-Bukhari. Seterusnya Iman al-Bukhari adalah pengarang kumpulan tradisi yang dikumpulkan dalam Sahih Bukhari iaitu sebuah buku yang bertajuk Al-Jami-al-Sahih, yang dianggap orang Islam Sunni sebagai hadis sahih daripada Nabi Muhammad s.a.w. Karya sejarahnya yang terkenal ialah sebuah buku yang bertajuk Al-Tarikh-al-Kabi. Buku Tajus-Salatin yang diselenggara oleh Khalid Hussain pada tahun 1992 adalah mengisahkan tentang panduan atau saranan untuk menjadi pemimpin yang baik. Karya ini berteraskan perinsip dan ajaran Islam yang menjadi pegangan dan cerminan pada zaman pemerintahan sultan Alauddin Riayat Shah. Karya ini menjadi peranan yang besar dan dijadikan panduan kepada pembesar Melayu pada ketika itu.

Dalam era globalisasi ini Tajus Salatin membawa suatu penganjuran konsep kepimpinan yang berteraskan Islam bagi menegakkan keadilan untuk dinikmati faedahnya sesama insan. Peranan dan fungsinya mampu dimanfaatkan dalam era globalisasi untuk melahirkan individu yang berketerampilan baik, positif dan peka terhadap kebajikan bersama. Penghayatan ke atas teks ini akan menghasilkan para pemimpin yang adil dan keadilan itu akan dimanfaati oleh segenap lapisan masyarakat di bawah pimpinannya. Oleh itu, jelas sekali bahawa Tajus Salatin ini mampu memberi sumbangan yang bermakna kepada khalayak dalam memupuk pembentukan kualiti diri yang ideal bagi para pemimpin.

Ringkasan Tajus Salatin

Karya ini dimulai dengan suatu pendahuluan yang diikuti dengan huraian yang terdiri dari dua puluh empat fasal. Pada peringkat pendahuluan karya ini berisikan puji-pujian kepada Allah s.w.t dan Nabi Muhammad s.a.w serta para sahabatnya iaitu keempat khalifah r.a. Selain itu, karya ini juga berisikan tentang tujuan buku ini dikarang adalah untuk memberitahu mengenai pekerti seorang raja, menteri, hulubalang dan rakyat serta tugas dan tanggungjawab mereka masing-masing. Buku ini juga menegaskan betapa besar dan mulianya seseorang raja itu sekirangnya mempelajari serta dijadikan panduan terhadap buku ini sehingga layaklah baginya sesuatu makhota.

Fasal pertama menyatakan tentang manusia mengenal dirinya sendiri. Tentang bagaimana asal mulanya dan bagaimana terjadinya manusia. Fasal ini dimulai dengan hadis nabi yang bermaksud barang siapa yang mengenal dirinya maka sesungguhnya ia mengenal Tuhannya. Fasal kedua pula mengisahkan tentang bagaimana orang mengenal Tuhan yang menjadikan mereka dan juga alam semesta. Fasal ini dimulakan dengan sepotong ayat al-Quran yang bermaksud ada pun hak Tuhan menjadikan sekalian manusia dan segala jin dari kerana mengenal zat-Nya dan mengetahui sifat-Nya segala mereka itu dan nyata kuasaan Tuhan akan segala hamba-Nya. Fasal ketiga, menyatakan bagaimana mengenal dunia. Fasal ini didasarkan pada sepotong ayat al-Quran yang menjelaskan tentang rezeki yang tuhan kurniakan kepada manusia dan mengaplikasikan kurniaan tuhan itu dengan sebaik-baiknya. Fasal keepat, menyatakan kesudahan kehidupan manusia dan saat terakhir menjelang maut. Fasal ini dimulakan dengan firman Allah yang menjelaskan setiap kehidupan akan mati. Dalam fasal ini menjelaskan dua golongan manusia iaitu yang leka dengan duniawi dan golongan yang berbudi yang mengejar akhirat. Fasal kelima, menyatakan martabat dan kekuasaan raja. Sebagai contoh pemerintahan Musa, Yusuf, Daud, Muhammad, Abu Bakar, Uthman dan Ali. Fasal keenam, didasari dengan firma Allah menyatakan tentang keadilan dan bagaimana menegakkan keadilan. Melalui firman Allah memerintahkan supaya berlaku adil dan melakukan kebaikan. Sekiranya berlaku hal sebaliknya, akan hilanglah daulat raja. Fasal ketujuh, menyatakan budi pekerti raja yang adil yang bergaul dengan orang yang beriman serta menjauhkan diri dari sebaliknya. Diberikan contoh seperti Khalifah Umar dan Raja Harun al-Rasyid. Fasal kelapan, menyatakan tentang raja kafir yang berlaku adil seperti Raja Nusyirwan. Keadilan raja itu sehingga mendapat gelaran Nusyirwan ‘Adil dan mendapat kemuliaan. Sekiranya dilakukan oleh orang yang beriman akan bertambahlah kemuliaannya. Fasal kesembilan, menyatakan tentang kezaliman dan penindasan sekiranya melalakukannya akan dimurkai Allah dan tidak mendapat syafaat Nabi Muhammad s.aw. Fasal kesepuluh, menyatakan pelajaran tentang tugas dan kewajipan serta budi pekerti pembesar-pembesar kerajaan dalam pemerintahan dan pekerjaan mereka masing-masing. Suatu kerajaan atau suatu pemerintahan itu diibaratkan sebagai suatu mahligai berdiri di atas empat buah tiang utama iaitu menteri berwibawa, panglima yang berani, pembesar yang amanah dan mukhbir iaitu penyiar berita yang jujur.

Fasal kesebelas, menyatakan tentang tugas dan kewajipan para penulis kerajaan. Huraian ini berdasarkan firman Allah yang menjelaskan betapa pentingnya qalam daripada pedang sehingga penulis dikatakan juru bicara raja. Fasal kedua belas, menyatakan tentang tugas dan kewajipan para duta kerajaan. Fasal ini berdasarkan sebuah ayat yang menjelaskan tentang para rasul yang tidak takut dalam menyampaikan perintah Allah. Diberikan contoh melalui Hikayat Nabi Musa dan Hikayat Nabi Harun. Duta dikatakan sebagai ganti mata, telinga dan lidah raja. Fasal ketiga belas, menyatakan tentang budi pekerti semua hamba raja supaya menjadi hamba yang terpuji. Fasal keempat belas, menyatakan tentang cara mendidik anak. Dikatakannya bahawa anak itu dari kecil adalah suci dari semua kejahatan. Ibu bapalah yang harus mendidiknya. Fasal kelima belas, menyatakan tentang berlaku hemat yang benar. Supaya orang berlaku hemat dan tidak akan dihina. Fasal keenam belas, menyatakan tentang akal dan orang yang berakal. Akal manusia merupakan pertimbangan yang membezakan baik dan buruk. Manusia yang berilmu harus berbudi agar dapat dimanfaatkan. Fasal ketujuh belas, menyatakan tentang undang-undang dasar kerajaan. Raja wajib memelihara undang-undang agar tidak menyimpang.

Fasal kelapan belas, menyatakan tentang ilmu kiafat dan firasat. Sebagai ilmu untuk mengenali manusia seperti ilmu nubuat, ilmu wilayat, ilmu hikmat dan ilmu kiafat dan firasat. Fasal kesembilan belas, menyatakan tentang tanda-tanda ilmu kiafat dan firasat. kedua-dua ilmu ini berbeza tapi salaing berkaitan dan berasal dari satu tempat yang sama. Dalam ilmu kiafat adalah untuk mengetahui tanda-tanda pada tubuh manusia. Apabila mengenal tanda-tanda pada tubuh manusia dipanggil ilmu firasat. Tujuan mempelajari ilmu ini supaya orang dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan. Fasal kedua puluh, menyatakan tentang hubungan hamba yang Islam terhadap rajanya. Dalam fasal ini ditunjukkan dua puluh hak hamba itu terhadap rajanya. Dalam fasal ini ditunjukkan adanya dua puluh hak hamba itu terhadap rajanya. Hak itu ditunjukkan satu persatu dengan cerita sebagai huraian.

Dalam fasal kedua puluh satu, menyatakan tentang hubungan hamba yang kafir terhadap rajanya. Dalam fasal ini menceritakan hubungan Umar dengan hamban rakyatnya yang kafir, baggaimana tindakan Umar sehingga negeri pemerintahannya aman dan harmoni. Hubungan hamba yang kafir dengan rajanya dalam fasal ini ditunjukkan dalam dua puluh syarat. Fasal kedua puluh dua, menyatakan tentang keadilan dan sifat mulia. Dalam fasal ini dimulakan dengan hadis yang mengatakan bahawa Allah mengasihani orang yang pemurah dan benci kepada orang yang bakhil. Sehingga dikatakan orang yang pemurah adalah mulia dan orang bakhil adalah orang yang hina. Demikian juga sifat pemurah merupakan perhiasan manusia sedang sifat bakhil merupakkan cela bagi manusia. orang pemurah akan masyhur dan seluruh manusia membencinya meskipun belum diketahui kerugian kebakhilannya. Inilah tanda pemisah antara kemuliaan dan kejahatan. Pada fasal ini diberikan empat hikayat sebagai contoh.

Fasal kedua puluh tiga, menyatakan tentang sifat menepati janji. Pekerjaan kerajaan itu terletak pada sifat menepati janji ini. Semua bangsawan, dermawan, budiman, beriman, terutama raja harus selalu menepati janji. Dalam huraian itu diberikan beberapa hikayat sebagai teladan. Fasal yang terkahir sekali ialah fasal dua puluh empat, yang merupakan fasal penutup. Dalam fasal ini diberikan petunjuk bagaimana melaksanakan pedoman pada fasal-fasal dalam Tajus Salatin supaya aman dan harmoni sesebuah negeri.

Signifikan Tajus al-Salatin Dalam Masyarakat Kini

Dalam era globalisasi yang dihadapi oleh masyarakat kini banyak kepincangan yang berlaku dalam melestarikannya. Keadaan ini memberi impak kepada pembangunan spiritual yang negatif kepada masyarakat. Kepincangan ini dilihat dengan timbulnya agenda kolonialisasi, penyelewengan, rasuah dan lain-lain lagi yang menular dalam masyarakat kini.

Berbanding dengan perspektif Islam pula manusia dianggap sebagai khalifah Allah di muka bumi yang dikurniakan akal dan tanggungjawab terhadapnya. Sehubungan itu, adalah wajar bagi setiap individu yang dianggap sebagai pemimpin untuk memenuhi tuntutan dan peranannya kepada penciptanya. Dengan demikian, dalam mendepani arus globalisasi ini peranan sastera mampu memberi sumbangan dalam menangani kepincangan ini. Sumbangan ini dapat dilihat dalam warisan perbendaharaan kesusasteraan Melayu tradisional melalui genre ketatanegaraan iaitu karya Tajus al-Salatin karangan Bukhari al-Jauhari.

Tajus al-Salatin muncul pada tahun 1603 di Acheh pada zaman pemerintahan Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayid al-Mukammil (1588-1604) yang dijadikan panduan dan cerminan kepada pemerintah dalam mentadbir negara. Karya ini berteraskan Islam berdasarkan pengalaman dan perlakuan pemimpin-pemimpin praIslam dan Islam sama ada yang zalim atau adil mahupun kafir atau Islam sebagai perbandingan. Karya ini juga digunakan dengan meluas oleh pemimpin-pemimpin mahupun individu dalam masyarakat Melayu terdahulu.

Sehubungan itu, dalam senario dewasa ini pemimpin pada era globalisasi dilihat lebih bersifat rakus, angkuh, mementingkan diri dan tidak bertanggungjawab. Sikap negatif ini akan membawa kepada kehancuran dalam masyarakat. Seterusnya kepincangan-kepincangan ini akan menjatuhkan nilai martabat sesebuah bangsa itu sendiri.

Justeru itu, karya kesusasteraan Melayu tradisional khususnya Tajus al-Salatin adalah signifikan dalam menangani arus globalisasi. Berteraskan Islam dan pemikiran serta konsep-konsep yang disarankan kepada pemimpin mahupun individu akan membentuk acuan sendiri dalam kalangan masyarakat dewasa ini. Seterusnya penghayatannya dapat memberi keadilan dan faedahnya dinikmati sesama insan. Karya kesusasteraan Melayu tradisional bukan hanya sekadar khazanah atau warisan bangsa tatapi merupakan titik permulaan peradaban kepada tamadun bangsa. Segala pemikiran di dalamnya terkandung nilai sejagat yang harus dicerapkan ke dalam masyarakat kini. Sehubungan itu, jangan diketepikan dan harus diketengahkan signifikannya dalam kalangan masyarakat agar dapat membentuk sebuah masyarakat yang aman dan harmoni.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TAJ AL-SALATIN

TAJ AL-SALATIN: Manajemen Pemerintahan dalam MELAYU ISLAM

Oleh
Dr. Abdul Hadi W. M.

ABSTRAK
Taj al-Salatin atau ‘Mahkota Raja-raja’ merupakan kitab pertama dalam sastra Melayu Islam yang membicarakan masalah etika, kepemimpinan, politik dan manajemen pemerintahan. Kitab ini selesai ditulis di Aceh Darussalam pada tahun 1603 M oleh Bukhari al-Jauhari, seorang ulama dan sastrawan Melayu abad ke-16 – 17 M. Buku ini terutama berisi petunjuk dalam menjalankan pemerintahan dan memimpin rakyat yang majemuk secara etnik, agama dan latar belakang kebudayaan. Pokok-pokok pembahasan tentang pemimpin yang berbobot dalam kitab ini sangat relevan bagi kita sekarang. Disebabkan pentingya kitab ini, sejak abad ke-17 hinggga 19 M berulang kali disalin dan diterbitkan dalam versi yang berbeda-beda. Bahkan juga telah diterjemahkan dalam bahasa Jawa, Sunda, Belanda, Perancis dan Inggris. Dalam bahasa Jawa yang diberi judul Serat Tajussalatin, terdapat beberapa versi. Versi terbaik ialah terjemahan Yasadipura II, pujangga Surakarta abad ke18-19 M. Dinyatakan dalam buku ini bahwa kecenderungan manusia untuk berbuat kejahatan jauh lebih kuat dibanding berbuat kebajikan. Untuk alasan itulah hukum dan keadilan perlu ditegakkan benar-benar.

Dua dari tiga kerajaan Islam awal di Nusantara, yang memainkan peranan penting dalam perkembangan agama dan kebudayaan Islam di Asia Tenggara, terletak di daerah yang kini disebut propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yaitu Samudra Pasai (1272-1450 M) dan Aceh Darussalam (1516-1700 M). Satunya lagi ialah Malaka (1400-1511 M) di Semenanjung Malaya. Di Pasai untuk pertama kali diperkenalkan penggunaan huruf Arab Melayu yang disebut huruf Jawi sesuai dengan sebutan lain bahasa Melayu yaitu bahasa Jawi. Di sini pulalah kitab keagamaan dan sastra Islam mulai ditulis dalam bahasa Melayu Pasai, yaitu bahasa Melayu yang telah mengalami proses islamisasi dan karenanya sangat berbeda dari bahasa Melayu Sriwijaya yang telah digunakan sejak abad ke-7 M. Tetapi akibat serbuan Majapahit pada paruh terakhir abad ke-14 M1 dan munculnya Malaka pada awal abad ke-15 M sebagai pusat perdagangan internasional baru di Selat Malaka, Pasai mengalami kemunduran hingga kemudian terpecah belah ke dalam kerajaan-kerajaan kecil yang lemah pada akhir abad ke-15 M (T. Iskandar 1965; Ismail Hamid 1983:6-13;.Ibrahim Alfian 1999:52)
Tetapi setelah Malaka direbut oleh Portugis pada tahun 1511 M, muncullah kesultanan Aceh Darussalam yang menggantikan baik peranan Pasai maupun Malaka, sebagai pusat perdagangan internasional dan kegiatan intelektual Islam. Bahkan dapat dikatakan di Aceh inilah penulisan kitab keagamaan dan sastra Islam benar-benar mengalami puncaknya, sehingga bahasa dan sastra Melayu menjadi mercu suar bagi bahasa dan sastra daerah lain di kepulauan Nusantara. Pesatnya perkembangan itu terjadi khususnya pada masa pemerintahan Sultan `Aliuddin Ri`ayat Syah gelar Sayyid al-Mukammil (1589-1604 M) dan Sultan Iskandar Muda (1607-1646 M), dua sultan yang membawa Aceh ke puncak kejayaaannya di bidang politik, ekonomi, perdagangan dan agama, yang sekaligus juga sangat mencintai ilmu dan sastra (al-Attas 1970; Hoessein Djajadiningrat 197917-8; Lombard 1985:45-6; Braginsky 1999:332; Ibrahim Alfian 1999:63).
Pada masa-masa inilah hidup dan muncul beberapa ulama besar, ahli tasawuf dan sastrawan terkemuka seperti Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai, Bukhari al-Jauhari, Abdul Jamal, Hasan Fansuri dan lain-lain. Ulama dan sastrawan Aceh lain yang terkemuka dan muncul setelah wafatnya Iskandar Muda atau pada akhir abad ke-17 M di antaranya ialah Nuruddin al-Raniri, Syaif al-Rijal, Abdul Rauf Singkel dan Jamaluddin Tursani. Tokoh-tokoh tersebut adalah penulis prolifik yang menghasilkan bukan saja syair-syair tasawuf, tetapi juga kitab fiqih, tafsir al-Qur’an, ilmu kalam, tasawuf, undang-undang, ketatanegaraan, sejarah dan hikayat beraneka corak. Mereka menulis dalam bahasa Melayu sebagaimana dalam bahasa Arab, ddan di antaranya ada yang juga menyadur dan menerjemahkan karya-karya penulis Arab dan Persia.
Baru pada awal abad ke-18 M, bersamaan dengan mundurnya kesultanan Aceh Darussalam dan mengecilnya wilayah kekuasaannya, penulis Aceh mulai menulis dalam bahasa Aceh. Sejak itu hingga akhir abad ke-19 M pusat kegiatan penulisan kitab keagamaan dan sastra Islam dalam bahasa Melayu menyebar ke tempat lain seperti Palembang, Johor, Riau, Banjarmasin, Siak, Jambi, Kedah, Malaka, Singapura, Batavia dan lain-lain.
Pengarang dan Karyanya
Taj al-Salatin atau ‘Mahkota Raja-raja’, merupakan kitab pertama mengenai etika, politik dan pemerintahan dalam bahasa Melayu. Ia selesai ditulis oleh Bukhari al-Jauhari pada tahun 1603 M dan dipersembahkan kepada Sultan Alauddin Riayat Syah sebagai sumbangan pemikiran seorang cendekiawan untuk membantu sultan menjalankan arah pemerintahan dengan baik. Maklum ketika itu wilayah taklukan kesultanan Aceh sudah sangat luas – meliputi hampir dua pertiga Sumatera dan sebagian tanah Semenanjung khususnya Kedah – dan penduduknya sangat bhinneka dari segi etnis, agama dan latar belakang kebudayaan (Braginsky 1998:325).
Banyaknya salinan naskah kitab ini dan versinya yang ditulis sejak kitab ini muncul hingga akhir abad ke-19 M, menunjukkan bahwa buku ini digemari oleh kalangan luas pembaca dan berpengaruh (Sri Wulan Rujiati Mulyadi 1983:292). Di samping itu terdapat beberapa versi terjemahannya dalam bahasa Jawa. Versi Jawa yang terkenal ialah terjemahan Yasadipura II, pujangga Surakarta akhir abad ke-18 M, yang memberinya judul Serat Tajussalatin (T. Iskandar 1965).
Naskah TS yang terkenal ialah koleksi A. Reland (1676-1718 M ) yang disimpan di Museum Perpustakaan Universitas Leiden. Naskah ini telah ditransliterasi dan dicetak dalam tiga edisi oleh pemerintah Hindia Belanda di Batavia pada tahun 1878. Berdasarkan transliterasi inilah pada tahun 1878 A. Marre menerjemahkannya ke dalam bahasa Perancis dengan judul Makota Raja-raja, ou La Couronne des Rois, par Bokhari de Djohari (Paris: Maisonneuve). Sebelumnya Roorda van Eysinga (1827) menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda di bawah judul Der Kroon aller Koningen van Bochari van Djohor. Dia menyebut kitab ini sebagai Mahkota Segala Naskah Melayu (de Holander 1976).
Bagi perkembangan sastra Melayu pengaruh kitab ini juga besar. Versi-versi dari kisah ringkas dalam TS dimasukkan dalam beberapa hikayat dan cerita berbingkai Melayu seperti Hikayat Isma Yatim dan Hikayat Bakhtiar. Salasilah Kutai, yang ditulis pada abad ke-19, juga memasukkan beberapa uraian tentang kepemimpinan dan managemen yang terdapat dalam Taj al-Salatin kedalam fasal-fasalnya (Kern 1956: 22-24; Braginsky 1998:325).
Pengaruh TS cukup besar bagi pemimpin Melayu. Hooykaas (1947) mengatakan bahwa ketika diajak oleh Raffles untuk melakukan kerjasama dagang, Sultan Johor Hussain Syah memberi jawaban dengan mengutip bagian-bagian dari kitab ini. Winstedt (1920) menyebutkan bahwa pengarang Melayu abad ke-19 dari Malaka. T. Iskandar (1965) menyatakan bahwa ketika Aceh menyerang Pahang pada awal abad ke-17 M, seorang putra Pahang dibawa ke Aceh. Setelah Sultan Iskandar Muda menilik roman muka anak tersebut berdasarkan ilmu firasah dan qiyafah yang ditulis dalam TS, dia mengambil putra Pahang itu menjadi anak angkatnya. Kelak dia dikawinkan dengan putrinya dan akhirnya dipilih menjadi penggantinya sebagai sultan dengan gelar Iskandar Tsani (1637-1641 M).
Beberapa sarjana sejak abad ke-19 hingga kini berpendapat bahwa TS merupakan saduran dari sebuah kitab Parsi. Tetapi Braginsky (1998:324-5) menegaskan bahwa TS merupakan karangan asli dari seorang cendekiawan Aceh yang berasal dari Bukhara dan tinggal lama di Aceh. Beberapa bagian dari kitab tersebut mengandung pembicaraan berkenaan realitas Melayu. Misalnya tentang musim kemarau dan musim hujan, kerbau dan harimau, ukuran timbangan seperti tahil dan lain-lain yang hanya berlaku di negeri Melayu. Ini membuktikan bahwa kitab ini ditulis oleh seorang pengarang yang telah lama tinggal di Aceh dan telah banyak pula mempelajari kehidupan, alam, politik dan kebudayaan Melayu.
Seandainya kitab yang asli memang ditulis di Persia, tentu masih bisa dicari jejaknya, namun berdasarkan bukti yang ada tidak akan pernah ditemukan. Dalam bagian yang menceritakan tentang sejarah, TS merujuk pada Kitab Tarikh yang ditulis di India karena menyebut nama sultan Mughal kedua, yaitu Humayun (1535-1558 M). Jika demikian halnya maka sudah pasti kitab ini ditulis sesudah tahun 1556, tahun pada saat Humayun berhasil merebut kembali tahtanya yang lepas di Delhi dan mengakhiri tahun-tahun pengasingannya yang lama di istana maharaja Safawi di Isfahan (Abdul Hadi W. M. 2000:341). Bahwa kitab ini merupakan karangan asli, tetapi menggunakan banyak sumber teks Parsi sebagai rujukan dan kemudikan disusun sedemikian rupa oleh pengarangnya sehingga jelas konteks Melayunya, tampak dalam pernyataan yang dikemukakan penulisnya sendiri
”Maka Bukhari yang hina daripada segala kata mereka yang maha mulia itu menghimpunkan (dalam) perkataan yang indah-indah dan seumpamanya seperti (ber-)bagai-bagai bunga yang dipilih dan dikarang”

(TS hal. 6)

Brakel (1969) menamakan TS sebagai karya atau sastra Adab. Walaupun dalam sastra Arab perkataan adab dipakai untuk menyebut karya sastra secara umum, namun dalam konteks sebutan itu tepat. Dalam sastra Turki pun kata-kata adab digunakan untuk menyebut karya yang membicarakan masalah etika, politik dan pemerintahan, atau ketatanegaraan. Contoh karya Adab dalam sastra Turki yang satu jenis dengan Taj al-Salatin ialah Nasa`ih al-Vuzara’ wa al-Umara’ (Nasehat untuk Para Wazir dan Raja-raja) karangan Sari Mehmed Pasha pada abad ke-17 M. Kitab-kitab seperti ini diilhami terutama oleh Kitab al-Bayan karangan al-Jahiz abad ke-9 M dan Siyasah-namah karangan Nizam al-Mulk, perdana menteri Saljug abad ke-11 M (Abdul Hadi W. M. 2000:16-7).
Sebutan karya Adab untuk TS dan sejenisnya cukup tepat, karena salah satu makna dari perkataan adab ialah sopan santun, tata cara atau etiket. Adab juga dikaitkan dengan tingkat keterpelajaran dan pendidikan yang diperoleh seseorang. Penyair Arab abad ke-11 M Abu al-`Ala al-Ma`arri dalam bukunya Risalat al-Gufran menghubungkan kata adab dengan kemampuan rasional dan intelektual, termasuk dalam melahirkan karya sastra. Pemikir Mu`tazila malah lebih jauh menyebutkan bahwa karya yang tergolong adab ialah karya yang lebih bercorak intelektual dibanding imaginatif. Bahkan al-Nadim dalam bukunya Kitab al-Fihrist pada abad ke-10 M menyatakan bahwa yang disebut buku adab ialah karya-karya yang mengemukakan masalah sosial, politik, hukum, etika dan falsafah (Ibid).
Dalam bukunya Bukhari al-Jauhari memang membahas, terutama masalah-masalah politik dan pemerintahan. Dalam pembahasannya itu di selalu merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis, serta hikmah (kearifan) yang dikemukakan para cendekiawan dan ulama terkemuka. Uraian tersebut ditopang dengan kisah-kisah perumpamaan yang menarik. Hikmah dan kisah-kisah dicukil dari berbagai sumber dan digubah kembali oleh pengarangnya. Kitab-kitab yang dijadikan bahan rujukan antara lain (1) Syiar al-Mulk atau Siyasat-namah (Kitab Politik) karangan Nizam al-Mulk yang ditulis antara tahun 1092-1106 M; (2) Asrar-namah (Kitab Rahasia Kehidupan) karya Fariduddin `Attar (1188 M); (3) Akhlaq al-Muhsini karya Husain Wa`iz Kasyifi (1494 M); (4) Kisah-kisah Arab dan Persia seperti Layla dan Majenun, Khusraw dan Sirin, Yusuf dan Zulaikha, Mahmud dan Ayaz, dan banyak lagi; (5) Kitab Jami’ al-Thawarikh (Kitab Sejarah Dunia) yang ditulis untuk Sultan Mughal di Delhi yaitu Humayun (1535-1556 M) (Browne 1976:203 ).
Sebenarnya apa yang dikemukakan dalam TS terkait dengan berbagai persoalan hangat yang sedang dihadapi masyarakat Aceh pada akhir abad ke-16 dan awal 17 M. Pertama-tama, Sultan Alauddin Riayat Syah sudah uzur dan krisis kepemimpinan mulai dirasakan kembali di Aceh. Dua orang putra beliau sudah tidak sabar untuk naik tahta dan terus menerus bersengketa. Kekerasan mewarnai kehidupan politik di Aceh. Malang tak dapat dielakkan, pada tahun 1604 M salah seorang putra Alauddin, yang menamakan diri sebagai Sultan Muda, merebut tahta dari ayahnya dan memasukkan raja yang sudah uzur itu ke dalam penjara. Alauddin wafat pada tahun itu juga, sementara Aceh terus dilanda kekacauan. Pada tahun 1607 M cucu Alauddin, Johan Perkasa Alam, berhasil merebut tahta dari tangan pamannya melalui jalan kekerasan dan menjuluki dirinya sebagai Sultan Iskandar Muda. Di bawah pemerintahannya inilah Aceh benar-benar memasuki zaman keemasan di bidang politik, ekonomi, perdagangan dan pusat kegiatan intelektual Islam. Kedua, walaupun dilanda krisis Aceh terus meluaskan wilayah. Daerah-daerah di pedalaman tanah Karo dan Mandailing berhasil ditaklukkan dan sebagian penduduknya berhasil pula diislamkan. Begitu pula halnya pesisir barat Sumatra, di antaranya Barus – kota kelahiran Hamzah Fansuri – yang ketika itu masih merupakan kerajaan kecil yang merdeka, sehingga peran kota Barus merosot sebagai pelabuhan dagang digantikan oleh Aceh Darussalam (Hussein Djajadiningrat 1979:45-6; Lombard 1986:93-5).
Dengan ditaklukannya sebagian tanah Karo dan Batak, penduduk Aceh semakian majemuk. Di sana terdapat penganut agama yang bermacam-macam, sukubangsa yang beranmekaragam, di samping beberapa komunitas keturunan asing seperti Arab, India, Parsi, Cina, Siam dan Eropa. Dalam upaya menanggapi keadaan ini agaknya Bukhari al-Jauhari tidak tinggal diam. Dia berusaha menjelaskan bagaimana seharusnya raja-raja Melayu yang beragama Islam memerintah sebuah negeri yang penduduknya multi-etnik, ras dan agama.
Setelah menjelaskan maksud penulisan kitabnya dan sejumlah buku rujukan, Bukhari al-Jauhari dengan meniru gaya penulis Parsi seperti Sa’di (penulis Bustan dan Gulistan) kemudian mengatakan bahwa kitabnya seumpama Bunga Satin, bunga dari segala bunga yang harum semerbak di taman hikmah. Tetapi pengarang berharap, janganlah gaya bahasanya saja yang diperhatikan, karena yang jauh lebih penting lagi ialah isi dan hikmah yang terkandung dalam kitab karangannya itu.
Walaupun TS lebih merupakan karya bercorak intelektual dan didaktis, namun aspek sastra dan estetiknya juga menonjol. Aspek sastranya diperlihatkan pertama-tama dalam gaya bahasanya serta dalam penggunaan kisah-kisah untuk menjelaskan tema-tema tertentu yang dibahas dalam fasal-fasalnya, seperti umpamanya tentang perbuatan raja yang adil dan zalim, tindakan mereka terhadap rakyatnya dan orang berilmu. Hikmah yang dikandung kisah-kisah itu juga dapat dirujuk pada ayat-ayat al-Qur’an dan hadis tertentu. Apalagi selain kisah-kisah yang diambil dari peristiwa sejarah Parsi, dan dari cerita rakyat Arab serta Parsi, juga terdapat kisah-kisah yang dipetik dari al-Qur’an, khususnya kisah nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w. Tidak jarang cerita yang dikemukakan juga berperan sebagai titik tolak penafsiran terhadap teks suci dan berfungsi menekankan makna lebih jauh dari pokok persoalan yang dibahas.
Aspek sastra yang tidak kalah pentingnya, walaupun tidak begitu ditonjolkan, ialah adanya puisi-puisi yang diselipkan pada tengah atau akhir pembicaraan. Puisi-puisi itu ditulis dalam bentuk persajakan Parsi seperti matsnawi (bentuk puisi yang persajakannya longgar dan bersifat naratif), ruba’i (sajak empat baris dengan bunyi akhir AABA atau AAAA, baris ketiga berupa interpolasi), qit’ah (epitaf, sajak ringkas) dan ghazal (sajak cinta empat baris dengan bunyi akhir AAAA). Misalnya seperti terlihat pada sajak dalam fasal pertama yang membicarakan kejadian manusia dan ditulis dalam bentuk qit’ah:
Jikalau kulihat dalam tanah ihwal sekalian insan
Tiadalah dapat kubedakan antara rakyat dan sultan
Fana jua sekalian yang ada, dengar Allah berfirman:
Kullu man `alayha fanin, yaitu
Barang siapa yang di atas bumi itu lenyap jua
(TS 24)
Atau sajak pada bagian akhir fasal pertama yang juga ditulis dalam bentuk qit’ah:
Subhan Allah apa hal jadinya segala manusia
Yang tubuhnya dalam tanah jadi dulia yang sia-sia
Tanah itu dijadikan tubuhnya kemudian
Yang ada dahulu padanya terlalu mulia
(TS 25)
Braginsky (1998:332) mengemukakan bahwa sajak-sajak dan kisah-kisah yang digunakan dalam TS merupakan sarana estetik yang lazim digunakan oleh para penulis Muslim Arab dan Persia. Kisah-kisah dan sajak-sajak ini berperan sebagai butir-butir permata yang mengitari permata yang lebih besar, yang merupakan titik sentral seluruh pembahasan, yaitu keadilan (`adil). Keadilan inilah yang dimaksud pengarang sebagai Mahkota Raja-raja. Syarat untuk menegakkan keadilan ialah adanya kearifan dan kematangan berpikir. Karena itu ilmu, hikmah dan akal budi sangat penting bagi seorang pemimpin untuk menopang kemuliaan dan martabat dirinya, yang dengan demikian mahkotanya dapat menerangi kerajaan.
Isi dan Susunan Buku
Sebagaimana kitab karangan penulis Islam pada umumnya, kitab ini dimulai dengan doa dan puji-pujian kepada Allah Yang Maha Kuasa, kemudian dilanjutkan dengan salawat kepada Nabi Muhammad s.a.w, seluruh keluarga dan para sahabatnya. Dalam mukadimah bukunya itu, Bukhari al-Jauhari menyatakan bahwa hanya Tuhan yang mempunyai hukum di dunia ini dan Dialah yang paling keras hukumnnya. Hukum di sini hendaknya ditafsirkan sebagai hukum agama, hikmah atau pun hukum alam. Semua itu berada di bawah kekuasaan Tuhan.
Penulis TS menekankan pentingnya hikmah dan ahli hikmah (hakim), yaitu para filosof, karena mereka mengutamakan akal budi untuk memecahkan persoalan-persoalan di atas dunia. Di antara ahli hikmah yang disebut oleh Bukhari ialah Aristóteles, penasehat agung Iskandar Zulkarnain. Aristoteles dikenal sebagai filosof yang meletakkan dasar-dasar pemikiran rasional dalam sejarah falsafah. Kodrat akal, menurut Bukhari ialah keinginannya untuk mengetahui segala sesuatu dan menyampaikan apa yang diketahuinya. Tetapi manusia sering dikuasai oleh hawa nafsunya, sehingga menggunakan akal budinya bukan untuk kepentingan yangbenar dan sejalan dengan ajaran agama. Agar supaya akal berjalan di atas jalan yang benar, maka ia harus dibimbing oleh wahyu ilahi yang disampaikan melalui kitab suci-Nya, al-Qur’an. Hanya dengan bimbingan wahyu ilahi akal pikiran dapat dijadikan sarana yang bermanfaat bagi kemanusiaan. Dengan bimbingan wahyu ilahi pula, akal budi dapat dijadikan sarana bagi manusia untuk mengenal dirinya, asal-usul kejadiannya dan hakikat keberadaannya di dunia.
Kitab ini disusun dalam 24 fasal yang membicarakan berbagai persoalan kehidupan manusia, khususnya yang berhubungan dengan moral atau etika. Tujuannya ialah memberikan pedoman bagi raja dan pemimpin dalam menyelenggarakan pemerintahan.
Fasal pertama, mengenai cara-cara manusia mengenal dirinya agar supaya mengetahui asal-usul kejadiannya dan untuk tujuan apa Tuhan menciptakan manusia. Manusia dijadikan sebagai mahkluq yang sempurna dari segi jasmani maupun ruhani. Ia adalah khalifah Tuhan di dunia dan sekaligus adalah hamba-Nya.
Fasal kedua, menyatakan peri mengenal Tuhan selaku Pencipta, dari mana manusia berasal dan akan kemana manusia pergi.
Fasal ketiga, membicarakan arti kehidupan di dunia. Manusia hidup di dunia diumpamakan sebagai seorang musafir yang singgah sebentar di negeri asing dan dalam perantauannya itu harus berusaha mengumpulkan bekal yang untuk dibawa pulang ke kampung halamannya di akhirat. Bekal yang dimaksud ialah amal saleh dan pengetahuannya yang benar tentang Tuhan.
Fasal keempat, menyatakan peri kesudahan segala kehidupan di dunia. Digambarkan betapa sukar dan pilunya manusia melepaskan nafasnya yang penghabisan di hadapan sang maut. Manusia harus senantiasa ingat bahwa setiap orang itu akan merasakan mati, tidak terkecuali seorang raja.
Empat fasal pertama ini dapat dianggap sebagai Bagian Pertama, yang merupakan landasan ideal bagi pembicaraan dalam bab-bab selanjutnya. Bagian Kedua, memuat fasal-fasal yang membicarakan masalah keadilan, raja-raja adil dan tidak adil, baik Muslim maupun non-Muslim, yaitu fasal 5, 6, 7, 8 dan 9.
Fasal kelima, membicarakan arti adil dan keadilan, tanda-tanda kebesaran dan kemuliaan seorang raja, kekuasaan dan kedaulatan negeri yang diperintahnya.
Fasal keenam, membicarakan metode pelaksanaan keadilan dalam pemerintahan. Kitab suci al-Qur’an menyuruh manusia berbuat adil dan baik (ihsan) di dunia, sebab hanya dengaan pedang keadilan dan pekerti ihsan ia bisa menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dan hamba-Nya dalam arti sesungguhnya. Amanat itu terlebih-lebih dibebankan pada seorang raja atau pemimpin yang memiliki kekuasan yang lebih dari orang lain untuk mengatur kehidupan. Menurut Bukhari, keadilan adalah pangkal kedamaian dan keselamatan dunia.
Fasal ketujuh, membicarakan pekerti raja-raja yang adil, keharusannya bergaul dengan para ulama, cendekiawan, ahli hikmah dan orang arif. Raja yang adil dapat menjaga dan melindungi rakyatnya dari perbuatan zalim para pembesar kerajaan. Dia tidak bpleh hanya mendengar dari menteri dan pegawai kerajaan mengenai keadaan negeri dan rakyat, tetapi harus melihat sendiri keadaan negeri dan rakyatnya. Juga dikemukakan bagaimana raja pada zaman dahulu kala selalu membagi waktu dengan baik: (1) Untuk melakukan kewajiban yang diperintahkan agama; (2) Untuk melakukan kewajiban terhadap pemerintahan; (3) Kapan waktu makan dan tidur; (4) Kapan waktu untuk beristirahat dan bersenang-senang dengan istri dan keluarga.
Fasal kedelapan, membicarakan raja kafir tetapi adil, khususnya Raja Nusyirwan. Dalam fasal ini juga dibicarakan peranan penting akal budi dalam kehidupan manusia, khususnya pemimpin dan raja.
Fasal kesembilan, menyatakan raja-raja yang zalim. Digambarkan bahwa raja yang zalim merupakan bayang-bayang Iblis dan khalifah setan di muka bumi. Kebalikan dari raja adil, yang merupakan bayang-bayang dan sekaligus khalifah Tuhan di muka bumi.
Kelima fasal yang dapat dianggap sebagai Bagian Kedua dari isi kitab ini, sebenarnya merupakan tema pokok dari buku ini. Bagian Ketiga terdiri dari fasal kesepuluh, yang membicarakan segala menteri dan penasehat raja; fasal kesebelas, membicarakan pekerjaan seorang sekretaris kerajaan dan para penulis pada umumnya; fasal keduabelas, membicarakan pekerjaan seorang utusan; fasal ketigabelas, membicarakan keadaan pegawai kerajaan.
Bagian Keempat adalah fasal-fasal terakhir yang membicarakan kelengkapan-kelengkapan yang diperlukan oleh seorang raja seperti cara berdiplomasi dan berhubungan berhubungan dengan pemimppin lain, cara-cara memelihara anak dan melindungi rakyat. Fasal keempat belas, membicarakan cara-cara mendidik anak; fasal kelimabelas, membicarakan cara menghemat uang negara; fasal keenam belas, membicarakan kedudukan akal budi; fasal ketujuh belas, membicarakan ilmu qiyafah dan firasat; fasal kesembilan belas, membicarakan tanda qiyafah dan firasat; fasal kedua puluh, membicarakan hubungan rakyat beragama Islam dengan rajanya yang beragama Islam; fasal kedua puluh satu, membicarakan rakyat yang tidak beragama Islam dan hubungannya dengan raja Islam; fasal kedua puluh dua, membicarakan pentingnya kedermawanan dan kemurahan hati; fasal kedua puluh satu, membicarakan wafat dan ahd; fasal kedua puluh empat, menyatakan kesudahan kitab ini.
Bukhari membuka fasal 1 bukunya dengan mengutip sebuah hadis qudsi berbunyi, ”Man `arafa nafsahu faqad `arafa rabbahu” yakni, ”Barang siapa mengenal Tuhannya akan mengenal dirinya”. Katanya selanjutnya, Bermula dari arti hadis ini nyatalah bahwa yang tiada dapat tiada daripada mengenal dirinya manusia pada pertama, maka dapat ia mengenal Tuhannya pada kemudiannya, karena jika manusia itu tiada mengenal dirinya dan tiada mengetahui akan perinya itu, maka tiadalah dapat ia mengena; maut pun daripada barang sesuatu yang ada ini” (TS 10).
Mengenal diri yang dimaksudkan penulis TS bukan semata-mata mengenal rupa diri jasmani, tetapi juga diri rohani, serta bagaimana tubuh dan jiwa ini dijadikan oleh sang Pencipta, dan apa yang bisa dilakukan jika waktu sudah berlalu dan umur semakin berangkat senja. Manusia diciptakan dari setitik air mani, yang kemudian tumbuh menjadi badan jasmani lengkap dengan anggota tubuh dan sarana kejiwaan serta keruhaniannya. Mengenal kejadian tubuh dan jiwa sangat penting, karena dengan itu seseorang akan menyaksikan kebesaran Tuhannya, pekerjaa-Nya yang kreatif dan Sifat-sifat-Nya yang Maha Pengasih dan Penyayang (al-rahman dan al-rahim). Bukhari percaya bahwa manusia dicipta dari tiada menjadi ada dengan tujuan spiritual tertentu. Apabila seseorang mengenal hakikat kejadian dirinya dan tujuan Tuhan mencipta manusia, manusia akan arif dan mampu mengenal tujuan hidup yang sebenarnya di dunia. Dengan demikian seseorang dapat melakukan pekerjaan yang bermakna sehingga keberadaannya juga bermakna. Bukhari mengatakan:

”Hai yang berbudi lihatlah daripada dirimu dan jangan kamu lihat pada anggota (tubuh, tetapi) lihat pada segala peri dan perbuatan (yang menjadikan) kamu daripada sesuatu perbuatan itu nyatalah keadaan Allah Subhana wa Ta`ala itu dan pada segala perbuatan yang indah-indah ini daripada kuasa Allah Ta`ala jua tiada lain dari Tuhan yang menjadikan.” (TS 15)
Selanjutnya diterangkan bahwa manusia adalah cermin bagi manusia lain. Begitu pula orang beriman adalah cermin bagi orang beriman lain. Di antara sesama mereka wajib saling menegor dan menasehati. Jika seseorang mau melihat ke dalam cermin itu secara mendalam dan mau merenung, akan tampak baginya pantulan bayangan keindahan Tuhan. Keindahan Tuhan yang dimaksud di sini ialah pekerjaan Tuhan yang kreatif dan sifat-sifat-Nya yang maha pengasih dan penyayang. Orang beriman wajib mengenal dirinya secara mendalam, sebab hanya dengan jalan demikian dia bisa mengenal Tuhannya secara mendalam. Semua itu dilakukan untuk meningkatkan keimanannya. Kitab suci al-Qur’an menyatakan bahwa manusia adalah khalifah Allah di atas bumi, yang diciptakan menurut gambaran-Nya. Itulah haekikat keberadaan manusia di dunia. Untuk dapat menjadi khalifah-Nya manusia pertama-tama harus mampu menjadi hamba-Nya yang sebenarnya, dalam arti i menaati segala perintah-Nya dan menjauhkan diri dari larangan-Nya.
Fasal 2, dimulai dengan kutipan al-Qur’an, Surah al-Jin ayat 56 , dan mengatakan, ”Ada pun hak Subhana wa Ta’ala menjadikan sekalian manusia dan segala jin (dengan maksud) dari mengenal Dzat-Nya dan mengetahui sifat-sifat-Nya segala mereka itu dan nyata kekuasaan Tuhan akan segala hamba-Nya (TS 28). Walau pun memempatkan akal pada kedudukan yang tinggi, namun Bukhari menolak pandangan kaum Mu`tazila (rasionalis) yang berpendapat bahwa al-Qur’an itu makhluq (diciptakan) dan karena tidak kekal. Menurut Bukhari, ”Bermula al-Qur’an itu firman Allah Ta’ala juga qadim (kekal) bukan makhluq dan ia itu disuratkan dalam segala nasihat kita dann dihafazkan dalam segala hati kita dibaca dengan segala lidah dan didengar dengan semua pendengar dan diturunkan (diwahyukan oleh Allah) kepada Nabi Muhammad s.a.w. ” (TS 30). Bukhari juga menjelaskan bahwa Allah merupakan Tuhan Yang Trasenden (tanzih), artinya tiada berupa dan tiada berhingga serta tiada berbilang dan tiada betapa dan tiada bertempat dan berwaktu. Dia merupakan Dzat Maha Tinggi yang meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya, qudrat-Nya dan sifat-sifat-Nya.
Fasal 3 tidak kurang pentingnya, karena merupakan landasan utama pembahasan mengenai keadilan dan raja-raja yang adil di dunia. Menurut Bukhari, walaupun dunia ini pada hakikatnya merupakan perhentian sementara, namun artinya tidak kecil bagi manusia. Sebab di dunialah manusia mengumpulkan bekal untuk dibawa pulang ke kampung akhirat. Bekal yang harus dibawa bukanlah harta benda, kedudukan dan kekuasaan, melainkan amal saleh. Seseorang dapat beramal saleh jika dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang salah dan yang benar. Untuk itu seorang pemimpin harus menguasai ilmu agama dan memahami kitab suci. Orang beriman juga harus senantiasa ingat mati. Dengan ingat mati, seseorang akan ingat Tuhan dan kemahakuasaan-Nya, serta selalu berhati-hati dalam segala pekerti dan tindakannya di dunia (TS 36).
Hidup manusia adalah sebuah perjalanan dari Yang Abadi menuju Yang
Abadi. Dalam perjalaannya itu dia harus melalui tempat-tempat perhentian tertentu dan singgah sesaat di situ. Tempat-tempat perhentian itu ialah : Pertama, salbi, yaitu alam primordial atau alam misal, ketika manusia masih berupa benih dalam angan-angan ayahnya, sedang ruhnya masih berada di tangan Sang Pencipta dan belum dihembuskan ke dalam badan jasmaninya; kedua, rahim ibu, selama lebih kurang sembilan bulan; ketiga, alam dunia, tempat manusia berusaha dan berbakti pada kehidupan; keempat, alam kubur, tempat terbaring sebatang kara; kelima, hari kiamat, tempat amal baik dan buruknya ditimbang; keenam, syurga atau neraka yang merupakan tempatnya yang kekal. Dunia merupakan salah satu perhentian penting, oleh karena itu wajib manusia itu mengenal dunia dan makna keberadaan dirinya sebaik-baiknya (TS 36-7).
Dalam fasal 4, dibicarakan persoalan maut. Dimulai dengan kutipan al-Qur’an, Surah Ali Imran 184 (”Segala yang bernyawa akan merasai mati) dan Surah al-Rahman 26-7 (”Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah Tuhan yang Maha Besar dan Mulia”). Bukhari mengingatkan pentingnya maut, supaya ingat akan hukuman Tuhan di hari kemudian bagi orang yang berdosa, khususnya raja-raja yang zalim. Ada dua hal yang dihadapi manusia di muka bumi ini. Pertama ialah mereka yang sibuk mencari harta dan mencintai dunia secara berlebihan, sehingga dia lupa bahwa kelak ia akan mati. Orang semacam itu sebenarnya bebal, kurang budinya. Kedua ialah orang yang bahagia dalam hidupnya, karena tahu bahwa dunia ini pada dasarnya buas dan jahat, tiada kekal dan ingat akan mati. Orang seperti itu tidak mencintai dunia secara berlebihan, tetapi bersungguh-sungguh mencari perbekalan untuk dibawa pulang ke akhirat, yaitu dengan banyak beramal saleh (TS JJ 25).
Raja Sebagai Ulil `Albab
Telah dikatakan bahwa dalam hakikatnya manusia adalah khalifah Tuhan di muka bumi. Tugas kekhalifatan itu lebih berat lagi diemban oleh seorang raja atau pemimpin. Seorang raja mengemban amanat yang berat, karena dia memiliki kekuasaan yanmg lebih
dari orang lain untuk mengatur kehidupan, mengembangkan arah peradaban manusia. Seorang raja adalah pelaku utama sejarah kemanusiaan, serta teladan utama bagi rakyat dan bawahannya. Dalam fasal yang membicarakan persoalan ini Bukhari al-Jauhari merasa perlu menceritakan kepemimpinan nabi-nabi, khususnya Nabi Musa, Nabi Sulaiman, Nabi Yusuf dan Nabi Muhammad s.a.w. Mereka memiliki kekuasaan untuk memerintah kaumnya, tetapi tetap hidup sederhana dan tidak terbelenggu oleh materialisme dan kemegahan duniawi. Mereka menjalankan kekuasaan untuk tujuan spiritual, bukan untuk sekadar tujuan material. Teladan lain ialah sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w. seperti Umar bin Khattab. Dalam menjalankan hukum dia tidak memandang bulu dan selalu berusaha menjauhkan diri dari KKN. Umar menghukum anaknya sendiri karena kedapatan memperkosa seorang gadis.
Contoh raja adil lain yang dikemukakan ialah Umar ibn Abdul Aziz dan Abdul Rahman, dua khalifah dari Daulah Umayyah (662-749 M). Mereka adalah pemimpin yang arif, jauh dari KKN, dapat mengendalikan hawa nafsu serta melindungi rakyatnya dari tindakan sewenang-wenang para pejabat negara. Contoh lain ialah Harun al-Rasyid, khalifah dari Daulah Abbasiyah di Baghdad (750-1258 M) yang memegang tampuk pemerintahan antara akhir abad ke-8 hingga awal abad ke-9 M. Harun al-Rasyid, yang sering muncul sebagai tokoh utama dalam Alfa Layla wa Layla (Kisah Seribu Satu Malam), tidak pernah puas menerima informasi dari para menteri dan pegawainya. Dia sering ke luar istana pada malam hari dengan menyamar untuk mendengar langsung keluhan dan kritik dari rakyatnya terhadap pemerintahannya. Selain itu dia juga seorang pencinta ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahannya dia mendirikan Khizanat al-Hikmah, sebuah lembaga ilmu pengetahuan yang bertugas menerjemahkan kitab-kitab falsafah dan ilmu pengetahuan dari bahasa Yunani, India, Cina dan Persia ke dalam bahasa Arab. Lembaga inijuga berfungsi sebagai penerbit, perpustakaan dan pusat pendidikan. Pada masa pemerintahannya, sepertiga penduduk Baghdad adalah tamatan universitas (Abdul Hadi W. M. 2000: 203-5).
Raja yang adil seperti Umar bin Khattab, Harun al-Rasyid, Umar ibn Abdul Aziz, Abdul Rahman dan Nusyirwan (raja Parsi abad ke-6 M dari Daulah Sassaniyah) dapat dipandang sebagai khalifah Tuhan dalam arti yang sebenarnya dan layak dijuluki sebagai Zill Allah fi`l-ardh (Bayang-bayang Tuhan di muka bumi). Sedangkan raja yang zalim, selain bebal dan tidak peduli terhadap ilmu pengetahuan, juga aniaya terhadap dirinya, Tuhannya dan manusia lain. Mereka lebih senang mengumbar hawa nafsunya dan senantiasa berlaku kejam terhadap rakyatnya. Karena itu mereka pantas disebut sebagai Bayang-bayang Iblis dan Khalifah Setan di muka bumi (KH 60).
Pada bagian akhir fasal 5 Bukhari al-Jauhari mengutip Kitab Adab al-Mulk (karangan Nizam al-Mulk, perdana menteri Dinasti Saljug abad ke-11 M) tentang syarat-sayat seorang raja. Seorang raja yang baik adalah seorang Ulil Albab, yaitu orang yang berilmu pengetahuan, menggunakan akal pikiran dengan baik dalam menjalankan pemerintahan. Adapun syarat menjadi raja itu ada sepuluh:
Pertama, akil baligh atau dewasa, dan berpendidikan. Dengan demikian dia akan
dapat membedakan yang baik dan yang jahat;
Kedua, seorang raja itu mesti memiliki ilmu pengetahuan yang banyaak dan punya
wawasan yang luas.
Ketiga, seorang raja mesti pandai memilih menteri. Menteri yang dipilih hendaknya
pandai dan berilmu pengetahuan, dengan demikian dapat mengerjakan tugas-tugasnya dengan baaik sesuai bidangnya;
Keempat, hendaklah raja itu baik rupanya supaya semua orang menyukai dan mencintainya. Jika rupanya kurang baik, hendaklah budi pekertinya tinggi;
Kelima, hendaknya pemurah dan dermawan, sebab pemurah itu sifat bangsawan dan orang berbudi, sedang kikir itu sifat orang musyrik dan murtad;
Keenam, senantiasa ingat kebajikan orang yang pernah membantunya selama dalam kesukaran, dan membalasnya dengan kebajikan pula;
Ketujuh, hendaklah raja itu berani menegur jenderal dan panglima perang, jika yang terakhir ini memang menyalahi perintah dan undang-undang;
Kedelapan, jangan terlalu banyak makan dan tidur, sebab banyak makan dan tidur merupakan sumber bencana;
Kesembilan, tidak gemar main perempuan, sebab gemar akan perempuan bukanlah tanda orang berbudi;
Kesepuluh, raja hendaklah laki-laki, sebab perempuan lebih suka memerintah di belakang layar dan sering menurutkan emosi dibanding pertimbangan akal sehat. Perempuan dapat dijadikan raja apabila tidak ada pemimpin laki-laki yang patut dirajakan, asal saja dijaga jangan sampai mendatangkan fitnah (KH 63-4).
Uraian yang menarik dalam kitab ini ialah tentang akal atau budi, serta kedudukan akal dalam kehidupan manusia. Pengarang menyebutkan bahwa dalam bahasa Arab, akal (al-`aql) dikiaskan sebagai gua yang terletak di atas bukit yang tinggi dan sukar dicapai. Untuk menerangkan kedudukan akal, Bukhari al-Jauhari mengutip sebuah hadis qudsi dan mmenerangkankisah raja Nusyirwan I, maharaja Parsi dari Dinasti Sassan abad ke-6 M yang selain dikenal adil. Selain itu dia mencintai ilmu pengetahuan dan mendirikan lembaga pendidikan tinggi. Nusyirwan I juga dicintai oleh rakyatnya karena tidak seperti raja-raja Parsi lain yang membebani rakyat dengan pajak yang tinggi. Nusyirwan menetapkan pajak yang ringan bagi rakyat kebanyakan.
Ketika Nusyirwan ditanya mengenai kedudukan akal oleh seorang hakim, dia mengatakan bahwa akal merupakan perhiasan kerajaan dan tanda kesempurnaan raja-raja Parsi. Orang yang berakal budi disamakan dengan pohon yang elok dan lebat buahnya. Buah-buahnya bukan saja enak dan berguna, tetapi menimbulkan keinginan orang untuk mencintainya. Sebaliknya raja yang zalim dan tidak pernah menggunakan akal budinya dengan baik, bagaikan pohon yang buruk dan tidak pernah berbuah. Karena itu dijauhi dan tidak disukai orang beriman dan terpelajar, serta dijauhi rakyat. Yang mau mendekatinya hanya orang bebal dan jahat, yang berkepentingan dengan harta dan kedudukan (TS 126). Ini ditegaskan dalam pernyataan dan puisi yang terdapat dalam fasal ini:
”Kaul Allah Ta`ala, ’Fattaqu’lLahu, ya Ulil’l-albabi, artinya takutlah kamu akan Allah Ta`ala, hai segala orang berbudi. Ada pun ulil’l-albabi dikatakan akan segala orang yang berbudi itu, dan budi itu pada bahasa Arab banyak namanya, dan termasyhur daripada segala namanya itu akal jua, dan sepatah kata akil segala ahli ilmu mengeluarkan daripada akal, dan akal pada bahasa Arab mengatakan akan ssuatu gua yang di atas bukit yang maha tinggi itu sukar sampai tangan orang padanya, lagi seperkara akal pada bahasa Arab mengatakan akan barang suatu yang teguh adanya itu. Maka daripada kebesaran budi itu Hadrat Nabi yang sempurna budinya itu bersabda: `Awwal ma khalaqa` lLahu’l-`aql’, artinya: pertama yang dijadikan Allah itulah akal jua… Adapun dalam Kitab Sifatu’l-`Aqal wa’l-`Aqil dikata wujud manusia itu seperti suatu negeri yang makmur, dan raja negeri itu budi itulah, dan menterinya itu musyawarat, dan pesuruhnya lidah, dan suratnya itu katanya. Maka daripada kelakuan pesuruh dan daripada peri katanya itu nyatalah peri rajanya dan kebajikan kerajaannya seperti berkata Bukhari:
Dengar olehmu hai budiman
Budi itulah sesungguhnya pohon ihsan
Karena ihsan itu peri budinyalah
Jika lain, maka lain jadilah
Orang yang berbudi itu kayalah
Yang tidak berbudi itu papalah
Jika kaudapat arti alam ini
Dan budi kurang padamu di sini
Sia-sialah jua adamu
Dan sekali pula sia-sia namamu
Jika kamu hendak menjadi kaya
Mintalah budi padamu cahaya
Hai Tuanku, Bukhari faqir yang hina
Pada budi minta selamat senantiasa
(TS 167-7
Apa saja tanda-tanda seorang raja yang berakal budi dan selalu bertindak berdasarkan pertimbangan rasionya? Bukhari al-Jauhari antara lain menyebutkan sebagai berikut: Pertama, bersikap baik terhadap orang yang berbuat jahat, berusaha menggembirakan hatinya dan mengampuni bila benar-benar bertobat; Kedua, rendah hati kepada orang yang berkedudukan lebih rendah dan hormat kepada orang yang martabat, kepandaian dan ilmunya lebih tinggi; Ketiga, mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan cekatan pekerjaan yang baik dan perbuatan terpuji; Keempat, membenci pekerjaan yang keji, perbuatan jahat, segala bentuk fitnah dan berita yang belum tentu kebenarannya; Kelima, senantiasa menyebut nama Allah dan meminta ampunan dan petunjuk kepada-Nya, ingat akan kematian dan siksa kubur; Keenam, mengatakan apa yang benar-benar dilihat dan diketahui, sesuai tempat dan waktu, yaitu arif menyampaikan sesuatu berita; Ketujuh, dalam kesukaran selalu bergantung pada Allah s.w.t. dan yakin bahwa Allah dapat memudahkan segala yang sukar, asal saja mau berikhtiar dan banyak berdoa serta memohon ampunan-Nya (Ibid).
Bukhari kemudian mengutip Imam al-Ghazali, dari kitabnya Ihya` Ulumuddin,
yang menyatakan bahwa kedudukan akal dalam tubuh manusia seperti raja dalam sebuah negeri. Sebuah negeri akan baik apabila raja yang memerintah melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin yang adil, arif dan ihsan, yaitu menggunakan akal budinya dengan sebaik-baiknya (KH 168). Raja yang adil, arif dan ihsan memenuhi lima syarat: Pertama, memiliki ingatan yang baik (hifz); Kedua, memiliki pemahan yang benar atas berbagai perkara (fahm); Ketiga, tajam pikiran dan luas wawasan (fikr); Keempat, menghendaki kesejahteraan, kemakmuran dan kemajuan untuk semua lapisan dan golongan masyarakat; Kelima, menerangi negeri dengan cinta dan kasihsayang (nur). Sebuah negeri diibaratkan sebagai manusia. Di situ raja merupakan akal budinya. Menteri-menteri ialah keseluruhan pertimbangan berdasarkan pikiran dan hati nurani, yang dilakukan melalui musyawarah; pesuruhnya (para pegawai) ialah lidah; suratnya ialah kata-katanya yang tidak sembarangan dan tidak menimbulkan fitnah (KH 126).
Dari pernyataan-pernyataannya dapat diperkirakan bahwa Bukhari al-Jauhari adalah penganut madzab Maturidi dalam teologi dan madzab Hanafi dalam fiqih. Kedua madzab ini banyak dianut di Asia Tengah, khususnya Bukhara, tempat leluhur Bukhari al-Jauhari. Dalam kitabnya malahan, di antara pemimpin 4 madzab fiqih, hanya Imam Hanafi yang disebut-sebut. Madzab Maturidi berbeda dari madzab Asy`ari, yang kini dianut sebagian besar ulama Indonesia. Madzab Maturidi dalam menggali asas teologi Islam, selain berpegang pada sumber-sumber al-Qur’an dan Hadis (menggunakan dalil naqli), juga menggunakan pendekatan rasional (dalil `aqli). Sedangkan madzab Asy`ari hanya berpegang pada dalil naqli. Dalam bidang fiqih, madzab Hanafi selain menggunakan dalil naqli, juga memakai dalil `aqli. Sedangkan madzab Syafi`i, yang dianut sebagian besar ulama Indonesia, hanya berpegang pada dalil naqli. Karena itu madzab Maturidi dan Hanafi terbuka bagi pintu ijtihad (pembaharuan), sedangkan madzab Asy`ari dan Syafi`i cenderung menutup pintu ijtihad (Ali Hasymi 1995:1275-91).
Adil, Adab dan Ulil Albab
Fasal terpenting kitab ini tentu saja fasal 6 yang membicarakan keadilan, karena keadilan merupakan tema sentral Taj al-Salatin. Bukhari menghubungkan keadilan dengan adab dan Ulil Albab. Dia mengutip al-Qur’an, Surah al-Nahl ayat 90, “Inna`l-Lahu ya`muru bi`l-`adl wa’l-ihsan” – Sesungguhnya Allah ta`ala memerintahkan berbuat adil dan ihsan. Adapun adil ialah benar dalam pekerjaan/perbuatan dan perkataan, sedangkan ihsan ialah kebajikan dalam berbuat, bekerja dan berkata-kata. Hadis Nabi juga menyebutkan bahwa adil itu tanda kemuliaan agama, sumber kekuatan seorang raja dan pangkal kebajikan insan.
Setelah itu Bukhari al-Jauhari mengutip Kitab al-Khairat al-Mulk, yang menyatakan bahwa raja yang adil merupakan rahmat Tuhan yang diberikan kepada masyarakat yang berima.. Hadis lain yang dikutip ialah yang menyebutkan bahwa, ”Raja yang tidak mencintai rakyatnya akan terhalang memasuki pintu syurga dan mengalami kesukaran untuk meraih rahmat Allah (TS 67-8). Uraian dalam fasal ini dapat dirujuk pada uraian dalam fasal sebelumnya, khususnya bagian yang mengemukakan pemimpin ideal seperti Nabi Musa a.s., Nabi Sulaiman a.s, Nabi Yusuf a.s. dan Nabi Muhammad s.a.w. Mereka memimpin kaumnya dan memerintah sebuah kerajaan untuk tujuan spiritual, bukan semata-mata untuk tujuan material. Karena itu mereka rela berkurban demi kepentingan bangsa, kaum dan umat, dan tidak menggunakan kekuasaannya untuk menumpuk harta dan makan kenyang (TS 52-3). Sedangkan apabila dirujuk pada fasal 1, 2 dan 3, yang dimaksud adil oleh penulis kitab ini ialah sikap yang benar terhadap Tuhan, diri sendiri dan manusia lain serta dunia. Pengertian ini harus ditempatkan dalam konteks bahwa manusia itu adalah khalifah Tuhan di muka bumi dan hamba-Nya sekaligus.
Bilamana kedua hal itu, yakni adil dan ihsan itu, terdapat ”pada manusia maka baik adanya, dan bila ada keduanya pada raja lebih baik lagi” (TS 67). Adil bukan saja tanda kemuliaan seseorang dalam pandangan agama, tetapi juga sumber kebajikan manusia. Lagi kata Bukhari, ”Raja itu umpama nyawa dalam tubuh, apabila nyawa bercerai dari tubuh nisacaya tubuh binasa” (TS 68). Ini dapat ditafsirkan bahwa bagi penulis TS raja harus menyatu dengan rakyatnya dan tidak terasing. Caranya menyatu ialah dengan memberikan perhatian penuh pada nasib rakyat serta menjalankan pemerintahan secara adil dan benar. Kata Bukhari al-Jauhari:
“Ada pun dalam Kitab Adab al-Salam dikatakan tiada dapat tidak akan raja yang adil itu mengetahui ihwal negerinya dan peri perbuatan hulubalangnya dan pekerjaan hambanya dan pekerti segala rakyatnya. Barang siapa yang dengan ingatnya demikian…dialah raja yang adil dengan pekertinya, karena apabila tahu baik jahat segala yang bergantung pada kerajaannya itu adalah dibenarkan akan kebajikan kerajaan itu…” (TS 72)
“Raja yang adil umpama matahari adanya, menghukumkan dengan hukum yang adil. Raja yang demikian memperoleh naungan Tuhan” (TS 69). Sebaliknya raja-raja yang tidak adil atau zalim adalah mendung tebal yang membuat bumi gelap gulita. Raja yang demikian berbeda antara perkataan dan perbuatan, selalu menuruti hawa nafsunya, tidak ingat perintah dan larangan Tuhan serta sunnah Rasul-Nya. Lupa pada dirinya dan tidak mengerjakan tugas pokok yang diembannya sebagai seorang raja. Maka dia menjadi bayang-bayang Iblis dan khalifah setan, musuh Tuhan dan Nabi. Dia melupakan rakyatnya dan hanya mengingat dirinya sendiri (TS 60). Tentang raja yang demikian, Bukhari al-Jauhari merujuk pada hadis ”Barang siapa daripada raja-raja yang tiada kasihan pada rakyat itu diharamkan Allah Ta’ala atas syurga” (TS 70).
Dikisahkan bahwa di negeri Syams dahulu kala ada seorang raja yang bijak dan suka menyantuni rakyatnya. Namanya Malik al-Saleh. Siang malam dia selalu ingat Tuhan dan keadaan rakyatnya. Pada suatu hari ketika mengunjungi sebuah masjid, dia melihat seorang fakir yang kehilangan sebelah kakinya sedang duduk di atas tikar. Malik al-Saleh lantas berdoa:
“Ya Ilahi, ya Tuhanku! Jikalau pada hari kiamat segala raja-raja itu yang alpa dari hal segala fakir dan miskin, dan masygul dia dengan kesukaan dunia dan segala nikmat dan daulat dan kebesaran (sehingga) melupakan diri dan menurutkan jua ajar perinya (hawa nafsunya, pen.) dan (yang) kerajaannya itu (diperoleh) karena kebajikan segala manusia (orang lain, pen.)…daripada alpanya dikarenakan pangkat kebesarannya akan segala hambanya yang mukmin. Ya Tuhanku, jikalau pada hari kiamat (Engkau) memberi tempat dalam surga pada segala raja-raja (seperti itu) aku tiada akan mau masuk dalam surga itu” (TS 88).
Bukhari kemudian mengutip Kitab Adab al-Umar, yang menyatakan bahwa raja yang adil tidak akan pernah mau membesarkan dirinya, karena orang yang suka membesarkan diri akan dimurkai oleh Tuhan dan kesombongannya akan membuat akal pikirannya tidak berkembang. Jika akal pikiran seseorang tidak berkembang, maka ia tidak akan bisa membedakan baik dan buruk, benar dan salah (TS 91). Dikatakan pula oleh Bukhari bahwa, “Hendaklah raja yang menjunjung keadilan dan hukum itu lemah lembut perkataannya, manis mukanya, namun keras hukumannya kepada orang jahat dan perbuatan jahat” (TS 94). Setelah itu Bukhariberalih ke topik lain, seraya mengutipsabda Nabi Muhammad s.a.w. yang menyatakan, ”Terbaik pekerjaan kerajaan itu: akan segala orang yang dapat mengerjakannya dan tahu perintah pekerjaan itu dan sangat jahat pekerjaan itu akan segala orang yang tiada dapat mengerjakannya dengan benar..” (Ibid). Mengenai kaitan antara keadilan, kemakmuran dan kesadaran hukum masyarakat, Bukhari mengatakan antara lain, “Bahwa apabila rakyat sentosa, negeri akan makmur. Apabila negeri makmur, banyaklah amal saleh dilakukan oleh manusia bagaikan pohon yang ditanam pada tempatnya.” Raja sempurna karena memiliki tentara yang kuat, tentara kuat karena berharta dan harta kekayaan sempurna apabila bisa dinikmati rakyat banyak dan rakyat sempurna karena rajanya adil dan insaf (TS 104).
Dalam fasal 9 Bukhari membicarakan perbuatan aniaya dan kaitannya dengan pekerti raja yang zalim. Fasal ini dimulai dengan kutipan dari al-Qur’an, Surah al-Mu`min ayat 52, yang menyatakan bahwa pada hari kiamat kelak hukuman terberat akan diterima oleh raja-raja yang zalim. Bukhari lantas mengutip Hadis Nabi yang menyatakan, “Dua golongan dari umatku yang tidak memperoleh syafaatku pada hari kiamat ialah raja yang zalim dan kedua orang yang melampaui batas sehingga menyimpang dari jalan agama.” Lagi Hadis Nabi yang lain, “Lima orang yang sangat dimurkai Allah ialah, pertama raja yang Anaya; kedua penghulu yang menyimpang; ketiga, orang yang tiada mengajarkan agama kepada keluarganya; keempat, orang yang menganiaya istrinya dan merampas hak-haknya; kelima, menistakan anak yatim piatu” (TS 109-10).
Dalam fasal 10 dibicarakan syarat-syarat menjadi menteri dalam sebuah kerajaan. Hal ini penting dikemukakan karena menteri merupakan salah satu soko guru kerajaan. Menteri yang dimaksud ialah menteri yang berwibawa dan bijaksana. Tiga soko guru lainnya ialah: Pertama, panglima perang yang berani dan mulia, yang memelihara dengan sungguh-sungguh para perajurit dan menjaga keamanan, ketertiban dan ketentraman rakyat, khususnya dari serangan tentara musuh; Kedua, pemegang kas negara yang jujur dan dapat dipercaya, senantiasa bersedia diperiksa dan menggunakan kekayaan negera untuk kepentingan khalayak luas; ketiga, adanya penyair berita yang benar, baik dari bawah ke atas maupun dari atas ke bawah. Berita yang simpang siur merugikan pemerintahan dan meresahkan masyarakat, karena mudah menimbulkan pergolakan. Begitu pula banyaknya informasi yang tidak jelas akan membuat jalannya pemerintahan tidak mantap (TS 109-21)
Merujuk pada Kitab Sifat al-Wazir, kemudian Bukhari menyebutkan menteri yang ideal dalam sebuah kerajaan: Pertama, selalu ingat pada laporan yang masuk dan perintah yang pernah dikeluarkan; kedua, mengetahui perbuatan dan perkataan penting berkenaan dengan kerajaan yang tersembunyi dari penglihatan dan pendengaran raja; ketiga, berani melakukan pekerjaan yang benar dan mengatakan sesuatu yang benar, walaupun ada orang dalam yang mau menghalangi; keempat, jujur, lurus hatinya dan amanah; kelima, dapat memelihara rahasia rajanya; keenam, sabar dalam pekerjaan, baik parasnya dan lemah lembut kata-katanya; ketujuh, tahu kapan berbicara dan kapan diam (TS 124-5). Sebuah kerajaan akan runtuh sebab hal-hal berikut ini:
Pertama, apabila menteri takabur dan hanya mengandalkan kebesaran dan kekuasaan raja; kedua, apabila raja terlalu mengharapkan menteri yang ternyata pengetahuannya tidak cukup untuk bidang pekerjaannya; ketiga, apabila menteri merasa serba tahu dan segan meminta pertimbangan orang-orang yang ahli dalam bidang-bidang yang dihadapi; keempat, apabila kerajaan diserahkan kepada pemimpin dan pejabat yang tidak terpuji akhlaqnya; kelima, apabila menteri dan pegawai-pegawainya suka memperlambat pekerjaan yang seharusnya cepat diselesaikan dan sebaliknya mempercepat pekerjaan yang justru tidak terlalu mendesak untuk diselesaikan; keenam, apabila raja dan menteri tidak tahu prioritas utama dari tugas dan pekerjaannya. ketujuh, apabila menteri hanya mencari nama dan popularitas di kalangan tertentu agar mendapat dukungan dan pujian serta langgeng menempati kedudukannya; kedelapan, jika pemborosan uang negara tidak dapat dikendalikan, dan banyaknya pembangunan yang tidak memperhatikan manfaatnya bagi rakyat banyak (TS 133-7).
Sebelumnya Bukhari menggaitkan runtuhnya sebuah kerajaan dengan perilaku raja yang zalim. Raja yang zalim lebih senang bergaul dengan orang bebal dan jahat. Dia tidak mau tahu keadaan rakyat yang sebenarnya. Dia merujuk pada Kitab Adab al-Mulk yang di dalamnya antara lain dikatakan bahwa sebuah kerajaan akan cepat runtuh, apabila selain karena rajanya bebal dan zalim, juga karena : Pertama, raja tidak memperoleh informasi yang benar dan rinci tentang keadaan negeri yang sebenar-benarnya, dan hanya menerima pendapat satu pihak atau golongan; kedua, raja senang melindungi orang jahat, keji, bebal, tamak dan pengisap rakyat; ketiga, pegawai-pegawai raja senang menyampaikan berita bohong, menyebar fitnah, membuat intrik-intrik yang menyulut konflik (TS 73).
Dalam fasal 20 Bukhari al-Jauhari merumuskan seluruh pembahasannya perihal raja yang adil. Raja yang adil dan ihsan selalu memenuhi tugas dan kewajibannya dengan baik. Antara lain: Pertama, tidak menyombongkan diri serta memudah-mudahkan persoalan yang dihadapi rakyat; kedua, jangan mendengar laporan atau pendapat dari satu golongan atau pihak, sedangkan dalam masyarakat ada banyak golongan dan pihak yang mesti didengar; ketiga, tidak mudah memurkai atau menghukum orang, golongan atau kaum tertentu tanpa alasan yang mendasar dan bukti yang kuat; keempat, melindungi semua golongan, kaum, umat dan lapisan rakyat dengan sikap kasih dan sayang, serta menjauhkan diri dari sikap diskriminatif; kelima, jangan menghendaki istri bawahan atau rakyatnya; keenam, banyak berdialog dengan para ulama, cendikiawan, sarjana, ilmuwan, budayawan dan ahli makrifat, serta pemimpin masyarakat yang berwibawa, serta mengurangi bertemu dengan orang bebal, tamak dan jahat; ketujuh, hormat pada orang yang sudah tua dan santun terhadap fakir miskin; kedelapan, memenuhi janjinya kepada rakyat yang mendukungnya; kesembilan, tidak merendahkan hukum agama, bahkan ikut berusaha menegakkannya; kesepuluh, memberi hukuman yang adil pada orang jahat dan memuji orang yang berbuat baik, serta memelihara jangan sampai rakyat sakit hati oleh sebarang tindakannya; kesebelas, bersikap lemah lembut dalam menjalankan hukum dan perintah; keduabelas, memelihara diri dari segala aib dan dosa; ketigabelas, raja harus menjadi suri tauladan dalam segala perbuatan dan perkataan, sebab apa yang dilakukan oleh seorang raja pasti akan ditiru oleh rakyat. Maka jika raja senang berbuat jahat, rakyat pun cenderung akan meniru melakukan perbuatan jahat; keempatbelas, banyak bersedekah; kelimabelas, menghargai faqir yang saleh dan berilmu, sebab dengan jalan demikian ia akan menerangi dunia, dibanding hanya bersahabat dengan orang kaya tetapi tidak berpengetahuan; keenambelas, ingat akan maut; ketujuhbelas, memperbanyak jalan raya atau sarana transportasi; kedelapanbelas giat meningkatkan perdagangan dan ekonomi rakyat; kesembilan belas, banyak membangun rumah ibadah, sarana khalayak seperti rumah sakit, madrasah dan rumah yatim piatu; kesembilan belas, tidak tinggal diam apabila melihat kejahatan mulai merajalela di tengah rakyat (TS 192-204).
Akhir Kalam
Dari apa yang telah dipaparkan nyatalah bahwa negara yang dicita-citakan oleh Bukhari al-Jauhari, sebagaimana dicita-citakan oleh pemikir Muslim lain sebelumnya pada zaman Daulah Umayyah (662-749 M) di Damaskus dan Daulah Abbasiyah (750-1258 M) di Baghdad, adalah sebuah negara hukum. Dalam negara seperti itu diperlukan adanya lembaga qadhi atau kehakiman seperti pada zaman Daulah Umayyah, kemudian berkembang menjadi kementerian kehakiman (Diwan al-Diyah) pada zaman Daulah Abbasiyah (Ali Hasymi 1987:170-1;230-1). Dengan panjang lebar penulis Taj al-Salatin menjelaskan secara terpisah dalam beberapa fasal bukunya. Menurut Bukhari al-Jauhari, keadilan tidak ada artinya apa-apa dan akan bersifat sementara apabila tidak didasarkan pada hukum yang dijunjung tinggi oleh raja, pembantu raja, pegawai kerajaan, para penegak hukum dan segenap lapisan masyarakat. Hukum dan adab (tatacara) menjalankan pemerintahan penting dalam kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama disebabkan hal-hal seperti berikut:
Pertama, kebanyakan manusia itu cenderung pada kejahatan dibanding pada kebaikan. Orang yang baik dan cenderung pada kebaikan itu tidak banyak, apalagi dalam sebuah negeri yang baru tumbuh dan masyarakatnya majemuk. Orang yang baik tidak ada gunanya dan malah mudah terbawa pada kejahatan apabila tidak ada jaminan hukum yang pasti. Tanpa supremasi hukum kejahatan akan semakin bertambah-tambah dan negara akan mudah mengalami disintegrasi.
Kedua, seorang raja atau pemimpin negara serta menteri-menteri dan para pegawainya tidak dapat menjalankan tugas dan pekerjaan dengan baik tanpa landasan hukum yang jelas. Apabila raja berbuat tanpa dasar hukum yang jelas, maka rakyat akan cenderung melihat perbuatan itu berdasarkan pertimbangan pribadinya semata-mata, dan dengan demikian mudah untuk tidak mematuhinya.
Ketiga, hukum diperlukan sebagai tolok ukur untuk menilai adil tidaknya seorang raja dan pemimpin, serta dapat menghindari kecenderungan perbuatan yang sewenang-wenang. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa seseorang yang memiliki kekuasaan akan cenderung berbuat sesuka hati untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Tetapi hukum yang dimaksud ialah hukum yang didasarkan pada syarak dan kitabullah.
Kita juga memperoleh kesimpulan bahwa bagi Bukhari al-Jauhari, segala orang jahat itu tidak akan berbuat sekehendak hati apabila hukum benar-benar ditegakkan. Dan tidaklah berguna pula segala orang yang baik di negeri itu apabila di sekelilingnya kejahatan merajalela. Pelaksanaan hukum secara ketat dan keras memungkinkan orang jahat mengendalikan niatnya untuk berbuat jahat. Dengan demikian orang-orang baik dan rakyat akan dapat melakukan tugas, pekerjaan dan pengabdian dengan baik dan ikhlas.
Buku ini juga relevan bukan karena membicarakan soal adab pemerintahan, tetapi karena menekankan pentingnya berbagai disiplin ilmu, dalam mengatur pemerintahan dan mengenal manusia. Tidak mungkin dapat mengatur pemerintahan dengan baik, tanpa mengenal dan memahami manusia. Usaha ke arah itu dapat dilakukan melalui empat disiplin ilmu atau metode, yakni: (1) melalui ilmu nubuwah, yaitu berdasarkan petunjuk al-Qur`an dan Hadis; (2) melalui ilmu wilayah, yaitu berdasarkan kearifan yang disusun oleh para hukama dan ahli makrifat; (3), melalui ilmu hukum, yaitu berdasarkan syariah, fiqih dan falsafah atau ilmu-ilmu humaniora; (4) mengenal manusia berdasar ilmu qiafah dan firasat, yaitu berdasarkan perangai, tabiat dan sifat-sifat yang ada pada manusia dan tanda-tanda lahirnya.
Pembahasan tentang keempat ilmu tersebut diletakkan menjelang bagian akhir kitab, yaitu fasal 18 dan 19 (TS 179-191). Fasal-fasal ini berperan sebagai petunjuk bagi seorang raja atau pemimpin alam melakukan hubungan dengan orang lain untuk berbagai kepentingan. Seperti halnya uraian tentang pedoman memimpin pemerintahan, fasal-fasal ini membuat buku ini digemari pembaca luas dan tidak kecil pengaruh kepada pembacanya, sebagaimana telah diuraikan. Pada akhirnya, dilihat dari berbagai aspek, buku ini memang relevan untuk dibaca oleh para pemimpin dan kaum cendekiawan Indonesia masa kini. Karya Bukhari al-Jauhari bukan hanya bisa dipertanggungjawabkan sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai buku ilmu atau managemen politik yang didasarkan pada sumber-sumber ajaran agama dan falsafah.
Daftar Pustaka:
Abdul Hadi W. M. (2000). Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya. Jakarta: Pustaka
Firdaus:
———————– (2002). Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik Atas Karya-karya Hamzah Fansuri. Jakarta: Yayasan Paramadina.
Ali Hasymi (1995). Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Al-Attas, S. Muhammad Naquib (1970). The Mysticism of Hamzah Fansuri. Kuala
Lumpur: University Malaya Press.
Brakel, L. F. (1969). “Persian Influences on Malay Literature”. Abr. Narrain
Jil. IX/9:407-26.
Braginsky, V. I. (1998). Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu Dalam Abad 7 – 19 M. Jakarta: INIS.
Browne, Edward G. A. (1976). A Literary History of Persia. 4 vols. Cambbridge:
Cambridge University Press.
de Holander (1984). Pedoman Bahasa dan Sastra Melayu. Jakarta: Balai Pustaka-ILDEP.
Doorenbos, Johann (1933). De Geschriften van Hamzah Pantsoeri.Leiden: NV VH
Batteljes & Terpstra.
Hill, A. (1960). ‘Hikayat Raja-raja Pasai: A Revised Romanized Version with an English
Translation”. JMBRAS 33, 2:1-215.
Hooykaas, C. (1947). Over Maleische Literatuur. Leiden: E. J. Brill.
Hussein Djajadiningrat (1979). Kesultanan Aceh (Suatu Pembahasan Atas Bahan-bahan
yang Tertera Dalam Karya Melayu tentang Sejarah Kesultanan Aceh). Alih
bahasa Teuku Hamid. Banda Aceh: Proyek Rehabilisasi dan Perluasan Museum
Aceh..
Ibrahim Alfian (1999). Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah. Banda Aceh: Pusat
Dokumentasi dan Informasi Aceh.
Jones, R. (1987). Hikayat Raja-raja Pasai. Petaling Jaya: Fajar Bakti.
Jumsari Jusuf (1979). Tajussalatin. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Kern W. (1956) Commentaar op de Salasilah van Kutai. `s-Gravenhage: Martinus
Nijhoff (KITLV, VKI 19)
Khalid Hussain (1966). Tajus Salatin. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Lombard, Denys (1986). Kerajaan Aceh: Jaman Sultan Iskandar Muda, 1607-1636. Alih
bahasa Winarsih Arifin. Jakarta: Balai Pustaka.
S. W. Rujiati Mulyadi (1983). Hikayat Inderaputra, A Malay Romance. Dordrecht:
Foris Publications.
Teuku Iskandar (1965). “Bukhari al-Jauhari dan Tajus Salatin”. Dalam Dewan Bahasa 9,
3 Mac.: 107-13.
Winstedt, R. O. (1920). ”Malay Woorks Known to Werndly in 1736”. JMBRAS
82,:163-5.
—————— (1938). ”The Malay Annals or Sejarah Melayu” JMBRAS 16, 3:1-
225.
—————— (1969) A History of Classical Malay Literature.Kuala Lumpur: Oxford
University Press.

Posted in Uncategorized | Leave a comment